Beranda Ragam Siswa SMPN 21 Kaur Lestarikan Adat Tari

Siswa SMPN 21 Kaur Lestarikan Adat Tari

43
0
IST/RKa
TARI : Para siswa SMPN 21 Kaur saat menampilkan Tari Piring, Tari Sapu Tangan dan Tari Selendang di salah satu acara pernikahan warga di wilayah Kecamatan Tetap belum lama ini.

RKa ONLINE – UNTUK melestarikan budaya adat lokal yang mulai terlupakan, SMPN 21 Satap Kaur mewajibkan seluruh siswanya untuk giat mempelajari tarian tradisional di Kabupaten Kaur. Bahkan, jika siswa tidak menguasai satupun jenis tarian maka siswa tersebut akan terhambat saat kenaikan kelas dan kelulusan.

Kepala SMPN 21 Satap Kaur, Milyan Firdaus, S.Pd saat wartawan Radar Kaur (RKa) berkunjung ke sekolah yang beralamat di Desa Tanjung Agung Kecamatan Tetap tersebut mengatakan, budaya adat lokal seperti tari ini sepatutnya dilestarikan. Itu bukti kepedulian sebagai masyarakat terhadap sebuah adat dan budaya lokal yang sudah ada sejak nenek moyang.

“Kebetulan ada salah satu guru yang membidangi budaya tarian lokal ini. Maka kami berikan pelajaran tari ini ke siswa. Ada enam tarian yang dipelajari siswa. Diantarannya, tari sapu tangan, tari selendang, tari piring, tari adau-adau, tari mabuk dan tari kuntau,” ujar Kepsek.

Selama ini tarian adat biasanya dilakukan para pemuda pemudi saat ada hajatan masyarakat seperti acara pernikahan. Namun, saat ini kebanyakan para pemuda pemudi khususnya di wilayah mereka sehabis lulus sekolah banyak yang pergi merantau untuk mencari nafkah sendiri. Oleh karena itulah mereka mewajibkan seluruh siswa untuk menguasai setidaknya satu tarian agar budaya ini terus terlestarikan.

Dikatakan Kepsek, masyarakat khsususnya di wilayah daerah Hulu Tetap ingin melakukan acara resepsi pernikahan, para siswa mereka sering diundang untuk tampil melakukan tarian tradisonal itu. Bahkan para siswanya pernah tampil di Kabupaten Bengkulu Selatan. Ini tentu menjadi suatu kebanggaan tersendiri bagi mereka. Dan masyarakat antusias menerima penampilan budaya tarian tradisonal oleh siswa-siswa itu.

“Saat ini susah untuk mencari orang yang mau menari saat masyarakat melakukan acara pernikahan. Untuk itu kami berupaya dengan mewajibkan siswa menguasai minimal satu tarian. Agar budaya adat lokal tarian tradisonal ini tidak terlupakan di masyarakat dan terus dilestarikan. Kalau bukan kita siapa lagi yang akan melestarikannya. Dan juga alhamdulillah masyarakat antusias menerima tarian dari siswa kami ini,” beber Kepsek yang berasal dari Desa Babat Kecamatan Tetap tersebut.

Ditambahkannya, saat tampil para siswa ini tidak mengganggu jam pelajaran di sekolah. Sebab, mereka tampil biasanya pada sore hari dari jam empat hingga jam enam. Ia berharap dengan adanya pembelajaran budaya lokal bagi siswa ini bisa membantu menjaga kelestarian adat istiadat kedepanya.

Dan perlu diketahui, lanjut Meliyan, dalam setiap para siswa ini tampil tidak di pungut biaya sama sekali atau gratis. Sebab, ini adalah salah satu cara agar budaya daerah terus terlestarikan. Selain itu, dengan tampil didepan masyarakat ramai diyakini akan menambah mental berani bagi para siswanya tersebut. (roh)




LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here