Beranda Wonderfull Kaur Sejarah Kuntau Semende – Pemikat dalam Penyebaran Syiar Islam, Bentuk Akhlak Mulia...

Sejarah Kuntau Semende – Pemikat dalam Penyebaran Syiar Islam, Bentuk Akhlak Mulia para Pendekar

939
2
HERY/RKa GERPU DUE: Menyambut kedatangan Plt Bupati Kaur, Hj. Yulis Suti Sutri, S.KM dalam sebuah acara. Salah seorang murid dari perguruan Kuntau Semende Lembak menampilkan penggunan senjata Gerpu Due dengan melintasi tumpukan gelas dan piring.

KUNTAU Semende, merupakan salah satu dari sekian banyak aliran pencak silat di Tanah Air. Sebuah seni bela diri yang telah diakui dunia, sebagai warisan budaya asli Indonesia. Diwariskan secara turun temurun oleh Suku Semende Lembak.

Salah satunya mereka yang mendiami Kecamatan Muara Sahung Kabuapaten Kaur. Padalmanap (54) Tokoh Adat (Todat) Suku Semende Lembak di Desa Ulak Bandung Kecamatan Muara Sahung menceritakan, seni bela diri Kuntau Semende. Pertama sekali diajarkan oleh seorang sakti bernama Puyang Gambir Melayang, kepada Puyang Awak. Di bawah bimbingan Puyang Gambir Melayang.

Puyang Awak yang juga dikenal dengan nama “Puyang Junjungan Raje Nyawe”. Diajarkan cara menangkis, menyerang dan mengunci serangan musuh. Dikemudian hari seni bela diri ini dikenal dengan nama “Kuntau Semende”. Kuntau sendiri merupakan gabungan dari dua kata. Yakni “Kun” yang berarti “aku tahu. Dan “Tau” yang berarti “dimana kamu”. “Puyang Awak merupakan nenek moyangnya Suku Semende.

Dia belajar dari seorang sakti bernama Puyang Gambir Melayang. Lalu aliran bela dirinya disebut aliran Gambir Melayang. Seorang yang telah berhasil dalam mempelajari Kuntau. Akan memiliki insting untuk mengetetahui dari arah mana datangnya serangan lawan. Meski dalam keadaan gelap gulita sekalipun,” papar Padulman. Setelah Puyang Awak menamatkan semua Ilmu serta gerakan seni bela diri “Kuntau Semende”. Puyang Gambir Melayang lantas melanjutkan pengembaraannya. Sebelum pergi ia berpesan agar mengunakannya dalam penyebaran syiar Islam. Karena memang sebelumnya nenek moyang suku Semende tersebut. Adalah penganut dan penyiar agama Islam.

“Jadi dahulu kala Kuntau Semende tak hanya digunakan untuk pertahanan. Tapi juga sebagai seni pemikat dalam penyebaran agama Islam. Karena memang kala itu kepiayawaian Puyang Awak dalam seni bela diri Kuntau Semende. Memikat perhatian banyak orang. Dan kesempatan itu digunakan untuk mendakwahkan agama Islam. Yang memang sebelumnya telah ia syiarkan,” kata Padulmanan. “Lalu Puyang kami itu berkata siapa yang ingin berguru dengannya. Maka harus terlebih dahulu mengucapkan Syahadat. Tak hanya diajari seni bela diri, mereka juga diajari tentang ajaran agama Islam,” lanjutnya.

Diantara murid Puyang Awak, ada dua orang yang bernama Puyang Agup dan Puyang Mumbang Besabut. Setelah mempelajari ilmu agama Islam, serta bela diri Kuntau Semende. Keduanya turun gunung menuju tempat yang tak jauh dari pesisir. Anak cucu keturunannya nantinya disebut suku Semende Lembak. Keduanya juga melanjutkan penyebaran agama Islam seperti gurunya. Juga menjadikan seni bela diri kuntau sebagai kesenian. Yang kerap ditampilkan dalam sebuah acara. Baik itu upacara pernikahan ataupun pertemuan tetua-tetua adat. Seni Kuntau Semende tak hanya melatih ketangkasan gerakan tubuh. Namun juga melatih mental dan moral muridnya.

Dalam pembelajarannya, calon pendekar mengetahui lima hal. Yakni tahu agama, tahu adat, tahu hukum, tahu sopan santun, dan tahu malu. Tahu agama, murid Kuntau Semende harus taat pada Agama juga Tuhan-nya. Tahu Adat menuntut mereka harus tahu larangan adat Suku Semede. Murid juga diharuskan untuk mentaati hukum, yang berlaku di NKRI. Juga harus mengetahui adab sopan santun dalam bergaul. Serta mempunyai rasa malu terhadap sesuatu. “Murid yang kami ajari Kuntau Semende dilarang keras untuk anarkis dengan tindak kekerasan. Kalau ada murid yang ketahuan berkelahi dengan sesama apalagi dengan orang diluar perguruan. Maka akan langsung dikeluarkn. Apalagi terlibat kriminal serta melakukan perbuatan asusila,” tegasnya.

Ia mengimbuhkan, sejatinya olahraga, seni, dan bela diri ini, digunakan untuk mencari persaudaraan. Dimana setelah sama-sama mendalami Kuntau Semende. Mereka adalah saudara seperguruan. Yang harus saling asuh dan saling asih.

Tahapan Pembelajaran

Dalam mempelajari Kuntau Semende, ada beberapa tahapan yang harus dilalui calon pendekar. Untuk tahapan dasar disebut dengan “Titi Batang”. Tahapan yang bertujuan melatih keseimbangan ini, dilakukan murid dengan melintasi jembatan berupa sebatang kayu. Dengan gerakan tangan menangkis dan menyerang. Tanpa jatuh dari jalur yang dilewati. Setelah mengusai titi batang, tahapan selanjutnya adalah langkah Kuntau.

Secara umum istilah ini merujuk pada jurus dalam seni bela diri. Ada 12 tingkatan Langkah yang harus dikuasai murid. Dimana dalam Kuntu Semende, tahapan ini adalah modal awal. Untuk menangkis dan menyerang lawan. Juga mengunci gerakan lawan, serta membuka gerakan ketika gerala dikunci oleh lawan. Tahapan selanjutnya yakni Sambut Buang. Dimana dalam tahapan ini murid Kuntau Semende, dilatih dalam menangkap tendangan atau pukulan. Lalu mengunci pergerakan lawan. Serta membuka kuncian musuh ketika terdesak.

Senjata dalam Kuntau Semende

Selain mempelajari bela diri tangan kosong. Kuntau Semende juga dilatih dalam mengunakan senjata. Selain Gerpu Due (Golok Kembar,red) yang menjadi ciri khasnya. Kuntau Semende juga mempelajari pengunaan Gerpu Empat, Pisau Due, Cabang/Trisula, Toya/tongkat, juga pedang. Dewasa ini pengunaan senjata dijadikan sebagai pertunjukan.

“Kalau zaman perjuangan dulu memang digunakan untuk melawan penjajah. Kalau sekarang lebih digunakan untuk pertunjukan seni,” pungkasnya. (yie)




2 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here