Beranda Sastra dan Budaya Seekor Kucing Datang Menginap

Seekor Kucing Datang Menginap

30
0

PADA malam ketujuh, Ali Umar yakin anaknya bakal terbang ke langit tinggi. Jam demi jam berlangsung sepi. Ia berdiri berkacak pinggang setelah melepas napas besar di ruang tamu. Kursi dan meja masih terpisah-pisahsebagian di halaman, yang lain di kamar tidur anaknya.

Di atas karpet yang dihamparkan di sana, piring-piring bekas makanan dan gelasgelas kopi serta teh teronggok menunggu Ali Umar turun menangani. Tahlil dan kirim doa kematian baru saja selesai. Dadanya masih sesak. Matanya kadang-kadang masih tak mampu membendung lelehan air mata.

Istrinya menepuk pundaknya ketika seekor kucing mengeong pelan dan berjalan mantap tanpa menoleh melangkahi ambang pintu. Istrinya yang semenjak hari kedua kematian anaknya kehilangan hampir delapan puluh persen suara karena kebanyakan menangis dan meraung, menunjuk-nunjuk kucing itu.
Ali Umar tahu istrinya tak suka kucing. Perempuan itu alergi terhadap segala jenis bulu binatang dan bulu kucing bisa membuatnya sesak napas dan gatal-gatal.

Kucing itu kemudian menggelut kaki Ali Umar. Istrinya berjingkat dan balik ke dapur bersama beberapa piring yang bisa di bawanya. Ali Umar mencengkeram tengkuk si kucing dan membawanya ke halaman, lantas menurunkannya pelan. “Sudah, jangan masuk,” katanya.

Ia pergi ke dapur, mengambil sepotong ayam goreng, lantas keluar lagi dan melemparkannya ke depan si kucing. Namun, si kucing hanya menatapnya dan kembali mengeong pelan.

Ali Umar mengabaikan tatapan memelas si kucing, kemudian kembali masuk ke dalam rumah, mengangkat piring dan gelas kotor, menggulung karpet, meminta bantuan Sadikin si tetangga sebelah kanan rumah untuk mengembalikan meja dan kursi ke ruang tamu, lalu menghempaskan dirinya yang capek lahir batin ke atas kasur.




LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here