Beranda Sastra dan Budaya Ruangan Tanpa Ujung

Ruangan Tanpa Ujung

53
0

Oleh Rumadi

APA yang kamu lihat masih sama. Kamu di sana hanya ditemani sebuah balai yang terbuat dari bambu. Tempatmu merebah di saat kamu lelah. Tak ada apa pun. Tak ada siapa pun. Suara yang kamu dengar pun hanya suaramu sendiri. Tak ada yang mendengarmu selain bangku itu.

Kamu mulai terbiasa berada di sini. Dan kamu telah lupa sudah berapa lama kamu terjebak. Kamu menoleh ke kanan kemudian ke kiri sesekali, seperti berharap ada keajaiban yang bisa membawamu kembali ke duniamu yang sebelumnya. Kamu merasa ini seperti mimpi dan berharap kamu akan segera terbangun dari mimpi ini.

Setiap hari kamu merasa lebih kecewa dari sebelumnya. Ketika kamu terbangun, apa yang kamu lihat tidak pernah berubah. Hanya ada bangku itu, dan kamu yang berbaju putih, bercelana putih tanpa beralas kaki. Kamu senang memandang kakimu yang telanjang. Hanya itu saja yang mampu menghiburmu. Pergelangan kaki yang diputar-putar dan bisa menapak di ruangan ini menunjukkan bahwa kamu bukan hantu. Kamu masih seorang manusia.

Kamu pandangi sekeliling. Warna putih tanpa ujung. Pernah suatu kali ketika kamu masih baru berada di sini kamu berlari sekencang-kencangnya, sejauh-jauhnya. Tak ada patokan waktu, mungkin kira-kira dalam perhitunganmu kamu telah berlari selama dua puluh menit. Namun yang kamu rasakan, kamu tak pernah benar-benar beranjak dari tempat itu. Kamu kembali ke tempat yang sama. Sejauh apa pun kamu berlari meskipun kamu berlari lurus kamu akan selalu menemukan balai yang sama. Tempat kamu terbangun pertama kali di tempat ini. Kamu terus mencobanya entah sampai berapa lama, hingga kamu benar-benar lelah dan pasrah menerima apa yang mungkin saja sudah digariskan. Kamu berpikir, bahwa kamu memang ditakdirkan untuk berada di tempat ini.




LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here