Beranda Berita Utama Rohidin : Media Adalah Suplemen

Rohidin : Media Adalah Suplemen

95
0
IST/RKa
DIALOG : Gubernur Berngkulu Rohidin Mersyah, FKPD dan undangan lain, saat sesi dialog, usai mengikuti acara puncak HPN ke-75 di Gedung Daerah, Selasa (9/2).

BENGKULU – Saat sesi dialog usai mengikuti puncak Hari Pers Nasional (HPN) ke-75 di Gedung Daerah, Gubernur Bengkulu Dr. H Rohidin Mersyah, MMA menyampaikan dirinya menganggap media sebagai suplemen. Banyak rasa suplemen, ada manis, pahit dan rasa lainnya. Begitu pula dengan berita, ia jadikan sebagian penyemangat untuk terus memperbaiki diri dan kinerjanya sebagai pemimpin di Provinsi Bengkulu.

“Saya itu pagi-pagi sarapannya media. Baik media cetak maupun online. Saya itu gabung dengan semua grup media online. Tidak jarang saya kirim foto berita dengan kepala dinas yang berhubungan dengan berita tersebut,” beber Rohidin, Selasa (9/2).

Gubernur juga mengakui, ia sudah sangat biasa dengan media. Bahkan sebelum ia menjadi Wakil Bupati (Wabup) Bengkulu Selatan (BS). Mulai dari sidang sengketa di Mahkamah Konstitusi (MK) hingga Pilkada BS sampai tiga putaran.

“Saya sudah sangat akrab dengan media. Karenanya, saya tidak akan pernah konfrontatif dengan media. Saya juga tidak anti kritik. Tapi, sebaiknya kritik yang membangun,” pesan Gubernur.

Rohidin juga menyampaikan kritik dengan media di Bengkulu. Menurutnya, media tidak jarang tidak pas dalam mengeksekusi berita. Sehingga sering terjadi kesalapahaman di masyarakat.

“Seperti soal insentif Tenaga Kesehatan (Nakes). Bukannya pemerintah tidak mau mencairkan. Tetapi ada tahapannya. Tapi di berita media, seolah-olah pemerintah tidak mau memberikan insentif Nakes. Saya hanya senyum-senyum baca beritanya,” paparnya.

Sementara Ketua PWI Provinsi Bengkulu Zacky Antoni, SH, MH menegaskan media mesti menjadi penerang di tengah masyarakat. Dengan berita yang sesuai dengan data dan fakta di lapangan. Bukan sebaliknya menimbulkan kegaduhan di tengah masyarakat. Karena berita yang tidak akurat dan memiliki tujuan tidak baik.

“Ingat, poin pertama kode etik jurnalistik, wartawan tidak boleh menulis berita dengan didasari niat yang tidak baik,” terang Zacky.

Turut hadir dalam puncak HPN di Gedung Daerah, unsur Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (FKPD) provinsi, para ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) kabupaten se-Provinsi dan para pimpinan media yang ada di Bumi Raflesia.(**)




LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here