Beranda Sastra dan Budaya Riwayat Seorang Guru

Riwayat Seorang Guru

24
0

Cerpen : A Warist Rovi

SETELAH menempuh jalan dusun yang aspalnya banyak kocar-kacir, akhirnya Muni tiba lagi di gedung sekolah bercat hijau itu –tempatnya mengajar. Tas lusuh yang biasa ia gendong ke sekolah mencuatkan ujung buku yang pojoknya banyak terlipat. Meski honornya hanya Rp 150 ribu per bulan, itu tak menyusutkan niatnya untuk datang pagi-pagi sekali ke sekolah. Sebagai penebus kekecewaan istrinya yang kadang marah-marah karena uang belanja kurang, sepulang mengajar, ia akan keliling kampung menawarkan jasa sebagai pemetik buah kelapa, melawan cuaca, menaklukkan ketinggian dengan tubuh gemetar, dan menempuh kulit kasar pohon yang siap menggiris betis.

Seperti biasa, setiba di sekolah, ia memarkir sepeda motor tuanya di samping kantornya yang kecil dan rapuh. Beberapa siswa yang mengenakan seragam putih dongker itu menyambut kedatangannya dengan gembira. Mereka berebut mencium tangannya, sedang beberapa siswa yang lain ogah untuk bersalaman. Bahkan, sebagian tetap bergurau, main kejar-kejaran sambil berteriak-teriak dan saling lempar, tak peduli Muni melintas di dekatnya.

Sebelum masuk kelas, sejenak Muni duduk mengipasi wajah dan lehernya de ngan selembar kertas. Kerah bajunya dibiarkan agak terbuka, hingga terlihat keringat yang bercucur mengilap. Ia bersyukur, masih bertahan mengabdi di lembaga swasta yang ada di dusun itu meski harus berhadapan dengan banyak hambatan; akses jalan yang sulit, sarana dan prasarana yang kurang memadai, ditambah lagi banyaknya siswa yang nakal. Tapi, tak terasa sudah tujuh tahun ia mengajar di sana. Tak peduli ada imbalan atau tidak, niat utamanya hanya ingin mencerdaskan siswa sekaligus mengarahkannya menjadi pribadi yang berakhlak mulia.

Bel yang terbuat dari kaleng bekas dipukul berkali-kali oleh seorang petugas. Siswa-siswi berhamburan menuju kelas dengan langkah setengah tergopoh. Beberapa di antaranya, tergesa menghabiskan jajan mereka hingga bibirnya naik-turun. Mu ni haru melihat siswa-siswinya itu. Meski usianya sudah tingkat tsanawiyah atau setara SMP, tapi mereka masih polos. Dalam arti, tak sepenuhnya tahu tentang kerumitan dan tantangan dalam hidup yang kadang membuat air mata mengucur. Muni hanya berdoa dalam dadanya, semoga anak didiknya itu kelak akan jadi orang beruntung, hidupnya tidak susah, dan bermanfaat bagi orang lain.




LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here