Beranda Hikmah Ramadhan Puasa Mengokohkan Kembali Tauhid 

Puasa Mengokohkan Kembali Tauhid 

154
0

BERAGAM godaan duniawi terus menguji umat. Tak sedikit yang terbuai untuk menuhankan harta dan jabatan. Pada bulan suci Ramadhan, umat memiliki kesempatan untuk mengokohkan kembali nilai-nilai tauhid. Secara bahasa, tauhid mengandung arti mengesakan dan menyatukan.

Mengesakan berarti mengimani bahwa Allah SWT itu Mahaesa, tiada Tuhan selain-Nya dan tidak ada sekutu bagi-Nya. Manusia bisa saja cenderung menyembah selain Allah SWT, tapi bagi orang-orang yang bertauhid, Allah SWT adalah satu-satunya yang wajib disembah.

Sejatinya tauhid merupakan inti utama ajaran Islam. Mudir (Direktur) Ma’had Aly Hasyim Asy’ari Pondok Pesantren Tebuireng KH Nur Hannan menjelaskan, tauhid kerap diartikan sebagai keimanan pada keesaan Allah SWT.

“Tauhid itu keyakinan atau keimanan kepada Allah SWT, di mana keimanan ini tidak hanya meliputi keyakinan di dalam hati, tapi juga diucapkan dalam lisan, dan direalisasikan dalam bentuk perbuatan,” ujar Kiai Hannan saat dihubungi Republika, Ahad (4/4).

Menurut dia, tauhid umat Islam akan kokoh jika mampu menyeimbangkan ketiga hal, yakni keyakinan di dalam hati, mengucapkan secara lisan, dan mewujudkannya dengan melakukan amal perbuatan. “Kalau ketiga unsur ini ada keseimbangan, itulah makna dari tauhid yang sebenarnya,” ujarnya.

Ramadhan tidak bisa dipisahkan dengan ibadah puasa. Menurut Kiai Hannan, tujuan disyariatkannya ibadah puasa di antaranya adalah mengantarkan setiap Muslim menjadi orang bertakwa. Karena itu, pada bulan suci ini umat Islam harus meningkatkan keimanannya.

Salah satunya dengan meningkatkan kualitas keimanan orang tersebut. “Tentu keimanan yang dimaksudkan di sini juga bertambah kuat dari sisi tauhidnya atau kepercayaannya kepada Allah SWT,” kata dia.

Menauhidkan Allah SWT juga memiliki keutamaan yang sangat luar biasa. Di antaranya, orang-orang yang bertauhid akan dihapuskan segala dosa-dosanya dan mendapatkan petunjuk dan rasa aman. Selain itu juga diberikan kehidupan yang baik di dunia dan akhirat serta dijamin masuk surga.

Menurut Kiai Hanan, orang yang bertauhid juga akan memiliki karakter kepribadian yang baik. Semakin baik tauhid seseorang, semakin baik pula karakter atau kepribadian seseorang itu.

“Jadi, tidak hanya hubungan dia kepada Allah, tapi juga hubungan dia kepada sesama manusia,” ujarnya.

Ajaran tauhid mengajarkan bagaimana menjaga hubungan baik dengan Allah SWT (hablumminallah) dan mengajarkan bagaimana menjaga hubungan baik antarsesama manusia (hablumminannas). “Kalau bisa menjaga hubungan keduanya itu, sebenarnya merupakan puncak ketauhidan seseorang,” kata Kiai Hannan.

Banyak orang mengaku sebagai Islam dan menyembah Allah SWT, tapi sejatinya mereka belum mengenal Allah SWT dengan baik. Akibatnya, banyak yang akhirnya terjerumus ke dalam perbuatan syirik. Karena itu, umat Islam harus memiliki tauhid yang kokoh.

Agar memiliki tauhid yang kokoh, umat Islam harus mendapatkan ilmu dari para guru atau ulama yang memiliki sanad keilmuan yang jelas. “Jadi, tauhid yang benar ya harus berdasarkan ilmu, dan ilmu ini harus punya sanad kepada Rasulullah SAW,” jelasnya.

Dosen Ma’had Aly Salafiyah Syafi’iyah Situbondo, KH Muhyiddin Khatib menjelaskan, ibadah puasa Ramadhan memiliki banyak hikmah yang dapat dirasakan bagi yang menunaikannya. Di antaranya, mendidik umat Islam untuk ikhlas, melatih kejujuran, dan melatih kedisiplinan.

“Keikhlasan itu artinya beramal baik semata-mata hanya untuk Allah, itu namanya tauhid,” kata Kiai Muhyiddin.

Jika tidak memiliki tauhid, seseorang akan sulit untuk menjalani ibadah puasa pada bulan Ramadhan. Anggota Komisi Fatwa MUI Pusat ini menjelaskan, disyariatkannya ibadah puasa Ramadhan secara umum juga memiliki dua tujuan yang mengandung ajaran tauhid, yakni tujuan vertikal dan horizontal.

Tujuan vertikal dalam bahasa Alquran itu laallakum tattaqun, agar kalian menjadi orang yang bertakwa. Takwa itu sumbernya adalah keyakinan terhadap adanya Tuhan.

Sementara, tujuan horizontal puasa adalah untuk menciptakan solidaritas dalam kehidupan antara yang kaya dan miskin. “Jadi, jika ibadah puasa itu dilaksanakan dengan sungguh-sungguh, dengan sendirinya iman atau ketauhidan seseorang itu akan menjadi kokoh,” katanya.

Kiai Muhyiddin menyebut, tauhid dalam Islam merupakan fondasi dari seluruh amal kebaikan. Karena itu, semua amal ibadah yang tanpa didasari tauhid tidak akan bisa dilaksanakan dengan baik.

“Tanpa tauhid, tidak mungkin bisa dikatakan baik itu semuanya karena kebaikan itu kita persembahan sepenuhnya kepada Allah SWT,” kata dia.

Sebagai bentuk keyakinan terhadap adanya Allah SWT, tauhid juga akan memberikan motivasi kepada seseorang untuk melaksakan kebaikan. Sebab, seorang hamba akan merasa dipantau oleh Allah SWT atau yang dikenal dengan sifat muraqabah.

“Puasa sangat potensial untuk menciptakan keruhanian seseorang menjadi baik,” ujar Kiai Muhyiddin, yang merupakan santri kinasih ulama fikih Indonesia, KH Afifuddin Muhajir.(**)




LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here