Beranda Hikmah Ramadhan Niat Puasa Ramadan: Tak Perlu Diucap, Cukup Dalem Hati

Niat Puasa Ramadan: Tak Perlu Diucap, Cukup Dalem Hati

85
0

NIAT yang dilafadzkan saat Puasa Ramadan tidak termasuk syariat yang dibawa oleh Nabi Muhammad Salallahu’alaihi wasalam. Bahkan itu merupakan sesuatu yang diada-adakan.

Umumnya, kita mengenal niat Puasa Ramadan berbunyi: nawaitu saumagadin…. dan seterunya…

Namun, niat itu tidak terdapat dalam riwayat-riwayat sahih. Tidak pernah dilakukan oleh Nabi dan para Sahabat.

Memang ada Hadis yang menyebut, bahwa amal tergantun niat.

“Semua perbuatan tergantung niatnya, dan (balasan) bagi tiap-tiap orang (tergantung) apa yang diniatkan; barangsiapa niat hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya adalah kepada Allah dan Rasul-Nya. Barangsiapa niat hijrahnya karena dunia yang ingin digapainya atau karena seorang perempuan yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya adalah kepada apa dia diniatkan.” (HR. Bukhari)

Kemudian juga hadis lain tentang wajibnya niat puasa Ramadan.

“Siapa yang tidak membulatkan niat mengerjakan puasa sebelum waktu fajar, maka ia tidak berpuasa.” (HR. Abu Daud, al-Tirmidz, dan al-Nasa’i).

Namun, niat bukan berarti harus dilafadzkan. Niat letaknya di dalam hati.
Imam Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan dalam kitab beliau Zadul Ma’ad, I/201,

”Jika seseorang menunjukkan pada kami satu hadits saja dari Rasul dan para sahabat tentang perkara ini (mengucapkan niat), tentu kami akan menerimanya. Kami akan menerimanya dengan lapang dada. Karena tidak ada petunjuk yang lebih sempurna dari petunjuk Nabi dan sahabatnya. Dan tidak ada petunjuk yang patut diikuti kecuali petunjuk yang disampaikan oleh pemilik syari’at yaitu Nabi shalallahu ’alaihi wa sallam.”

Dari pernyataan Ibnul Qayyim rahimahullah tersebut, jelas bahwa Rasulullah tidak pernah membaca, atau melafadzkan niat saat Salat atau Puasa Ramadan.

”Barang siapa yang melakukan amalan yang tidak ada dasar dari kami, maka amalan tersebut tertolak”. (HR. Muslim).

Awal mula niat dilafazkan dalam ibadah: Salat maupun Puasa Ramadan atau Ibadah lainnya, berawal dari salah pemahan pernyataan Imam Syafiih.

Imam As-Syafi’i pernah menjelaskan:
“….shalat itu tidak sah kecuali dengan an-nuthq.” (Al-Majmu’ Syarh Muhadzab, 3:277)

Pengikuti mazhab Syafi’iy memaknai an nuthq di sini dengan adalah melafalkan niat. Sehingga mereka membolehkan bahkan men-sunnahkan lafadz niat. Padahal ini adalah salah paham terhadap maksud Imam Syafiih.

Sebagaimana dijelaskan oleh An Nawawi bahwa yang dimaksud dengan an nuthq oleh Imam Syafiih, bukanlah mengeraskan bacaan niat. Namun maksudnya adalah mengucapkan takbiratul ihram. An-Nawawi mengatakan,

“Ulama kami (syafi’iyah) mengatakan, ‘Orang yang memaknai demikian adalah keliru. Yang dimaksud As Syafi’i dengan an nuthq ketika shalat bukanlah melafalkan niat namun maksud beliau adalah takbiratul ihram’.” (Al Majmu’, 3:277).

Kemudian Abul Hasan Al Mawardi As Syafi’i, mengatakan: “Az Zubairi telah salah dalam menakwil ucapan Imam Syafi’i dengan wajibnya mengucapkan niat ketika shalat. Ini adalah takwil yang salah, yang dimaksudkan wajibnya mengucapkan adalah ketika ketika takbiratul ihram.” (Al-Hawi Al-Kabir, 2:204).

Karena kesalah-pahaman ini, banyak kiyai yang mengklaim bermadzhab syafiiyah mengajarkan lafal niat ketika shalat. Selanjutnya masyarakat memahami bahwa itu juga berlaku untuk semua amal ibadah. Termasuk Ibadan Puasa Ramadan.

Dengan demikian, niat untuk melaksanakan Ibadah Puasa Ramadan, tidak perlu dilafadzkan, cukup tertanam di dalam hati. (**)




LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here