Beranda Ragam Nasi Jambar Kunyit, Makanan Khas Daerah Sarat Makna Luhur

Nasi Jambar Kunyit, Makanan Khas Daerah Sarat Makna Luhur

191
0
IST/RKa
SYUKURAN: Nasi jambar kunyit dihidangkan dalam kegiatan wisuda santri Taman Pendidikan Al-Quran di Kecamatan Kaur Tengah.

MENYAMBUT bulan suci Ramadan atau bulan puasa, sebentar dijalani umat Muslim. Masyarakat Provinsi Bengkulu, termasuk di Kabupaten Kaur, tak pernah lepas dari tradisi membersihkan makam, juga prosesi mengirim doa kepada para leluhur. Tak lepas juga kegiatan menjamu sanak saudara untuk makan bersama. Lalu, bagi masyarakat yang menjujung tinggi adat istiadat, acara kurang terasa lengkap tanpa hadirnya nasi jambar kunyit.

Panganan khas, kebanggaan Bumi Rafflesia yang terbuat dari nasi ketan berwarna kuning, karena campur dengan kunyit. Saat disajikan “wajib” ditemani hidangan ayam panggang diatasnya. Menyimbolkan banyak makna yang terkandung didalamnya. Pada zaman dulu, nasi jambar kunyit dihidangkan setidaknya dalam 12 acara adat. Baik itu acara sukacita, dukacita dan pernikahan. Pun pada setiap akan memulai kegiatan usaha baru seperti membuka lahan pertanian atau perkebunan, memulai usaha bagi nelayan bahkan perdamaian dua pihak yang terlibat konflik sosial.

“Makanan ini selalu ada dalam kegiatan adat masyarakat Provinsi Bengkulu, khususnya Kabupaten Kaur. Misalnya, saat syukuran mengkhatamkan kitap suci Al-Qur ‘an, atau saat acara kesepakatan damai antara dua pihak yang berselisih. Juga acara doa menyambut bulan Ramadhan,” ujar H. Samsani (80) pemuka adat dan agama Desa Muara Sahung Kecamatan Muara Sahung.

Terpisah, pemuka adat Desa Ulak Bandung Kecamatan Muara Sahung, sekaligus guru Kuntau Semende, Padulmanan (55) bercerita, berdasarkan penjelasan yang ia dengar dari kakeknya, nasi jambar awalnya terbuat dari beras ketan yang masih terberai. Lalu kemudian di masak dan diberi santan, sehingga setelah matang menjadi padat dan menyatu. Hal itu menggambarkan upaya untuk menyatukan masyarakat Kaur yang multikultular.

Bila harus penuh mengikuti adat, ada aturan khusus dalam peletakan ayam panggang utuh di atas nasi jambar. Posisi yang ditata sedemikian rupa ini, memiliki makna luhur sebagai nasehat bagi seorang insan.

Ayam yang telah dibelah dadanya, diletakkan dengam posisi ditelentangkan diatas nasi jambar. Mempunyai makna, manusia harus selalu bersyukur dan menerima apa adanya.

Sedangkan bagian kepala yang ditundukkan, merupakan simbol dari sikap umat manusia menjalani hidup.

“Semakin tinggi ilmu dan kedudukannya, harusnya seorang insan harus makin menunduk. Jangan menyimpan sipat angkuh didalam diri,” tutur Samsani.

Lalu, pada bagian sayap, haruslah diikat ke atas seperti seseorang yang sedang mengangkat tangan. Melambangkan sikap pasrah kepada Allah SWT. Posisi kaki yang dipotong bagian ujung atau kuku, lalu dilipat seperti seseorang sedang duduk bersilah. Memiliki arti sikap santun juga senang bermusyawarah dalam penyelesaian sebuah persoalan.

“Sayangnya, entah karena tidak memahami atau karena memang tak mau repot. Penempatan dan penataan ayam bakar kurang diperhatikan. Padahal, didalamnya tersirat banyak makna kehidupan,” ungkap Padulmanan.

Tak sebatas itu saja, nasi jambar memiliki makna kemakmuran dan kebersihan. Lanjutnya, ketika yang membuatnya adalah seseorang yang memahami adat. Nasi kunyit diletakkan diatas alas berjahitan benang emas, kain putih, dan daun pisang. Jika si pembuat telatan, nasi berwarna kuning tak akan sampai tumbah lalu mengotori kain putih. Hal ini melambangkan dari kebersihan. Sedang daun pisang berwarna hijau berarti kemakmuran.

“Dengan nilai-nilai luhur didalamnya, harapan saya yang telah sepuh ini, agar nasi jambar kunyit sebagai kekayaan daerah,terus dihidangankan disetiap kegaitan,” harapnya. (yie)




LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here