Beranda Politik dan Hukum Nama Kiai Hasyim Asy’ari Hilang dari Draf Kamus Sejarah Indonesia

Nama Kiai Hasyim Asy’ari Hilang dari Draf Kamus Sejarah Indonesia

85
0

RADARKAUR.ID – Ketua Fraksi PKS DPR Jazuli Juwaini merespons beredarnya naskah Kamus Sejarah Indonesia yang tidak mencantumkan Hadratus Syekh Kiai Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama, sebagai tokoh yang berperan besar dalam sejarah perjuangan dan kemerdekaan.

Anehnya, lanjut Jazuli, sejumlah nama asing justru muncul. Dia mengatakan hal ini merupakan keteledoran dan menunjukkan ketidakpahaman tim penyusun tentang sejarah bangsa.

Menurut dia, siapa pun yang menyusun maupun menyebarkan serta bila ada unsur kesengajaan, itu merupakan bentuk pengkhianatan terhadap sejarah bangsa.

Oleh karena itu, Jazuli menyarankan buku tersebut atau kalaupun masih berbentuk draf sekalipun, harus segera ditarik dari peredaran karena bisa menyesatkan anak bangsa.

“Seluruh anak bangsa harus paham secara utuh sejarah bangsa Indonesia dan tidak boleh ada yang memutus mata rantai sejarah perjalanan bangsa. Karena itu kalau hal ini disengaja merupakan pengkhianatan terhadap sejarah,” kata Jazuli Juwaini dalam keterangannya, Selasa (20/4).

Anggota Komisi I DPR Dapil Banten ini menyatakan Hadratus Syekh Hasyim Asy’arisebagai pendiri NU mutlak masuk dalam dokumen sejarah mana pun karena peran dan kiprahnya yang luar biasa baik pada masa penjajahan maupun kemerdekaan. Dia mengingatkan bahwa Hadratus Syekh Hasyim sebagai pendiri NU dengan Resolusi Jihad-nya, yang terkenal mampu membangkitkan semangat juang rakyat Indonesia. Juga peran Hadratus Syekh Hasyim sebagai rujukan ketika bangsa ini membentuk dasar negara dan konstitusi bernegara.

“Jangan putus mata rantai sejarah tersebut. Jangan lupakan jasa ulama besar bangsa ini,” katanya.

Menurut Jazuli, semua anak bangsa harus memahami ideologi negara dan sejarahnya. Oleh karena itu, kata dia, menjadi tugas Kemendikbud untuk menyusun kurikulum dan materi-materi kebangsaan yang valid dan tidak ada penyimpangan serta diwajibkan untuk diajarkan di sekolah-sekolah dari tingkat dasar hingga SMU.

“Pemerintah harus segera klarifikasi dan tarik draf naskah yang beredar tersebut, serta mengusut motif tidak dicantumkannya Hadratus Syekh Hasyim Asy’ari,” pungkas Jazuli.

Sebelumnya, Kemendikbud menyatakan draf yang beredar berupa salinan softcopy itu tidak resmi itu. Kemendikbud juga menyatakan draf itu bukan dari mereka. Kemendikbud sendiri sedang menyempurnakan buku Samus Sejarah Indonesia. (boy/jpnn)  




LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here