Beranda Selebriti Marak Prostitusi Artis, Apa Penyebabnya?

Marak Prostitusi Artis, Apa Penyebabnya?

91
0
ILUSTRASI

JAKARTA – Kasus prostitusi di kalangan artis atau publik figur seolah tidak ada habisnya. Belakangan jagat hiburan dihebohkan oleh penangkapan dua selebritas. Awalnya, artis FTV Hana Hanifah ditangkap bersama seorang pria berinisial A di sebuah hotel di Medan pada Minggu (12/7) malam. Keduanya ditangkap terkait dugaan kasus prostitusi online.

Jessica Iskandar Pengin Menangis Saat penangkapan, pihak berwajib menemukan barang bukti berupa alat kontrasepsi, dua ponsel, dan kartu ATM. Dalam kasus tersebut, polisi sudah menetapkan dua tersangka yakni berinisial R dan J. Menurut aparat, J adalah muncikari, sementara R merupakan teman J yang menjemput Hana Hanifah di bandara.

Hana Hanifah setelah menjalani pemeriksaan sudah diperbolehkan pulang pada Selasa (14/7) malam. Menurut aparat, Hana Hanifah mengaku telah menerima Rp 20 juta dari mucikari yang menjual jasanya.

Tidak lama setelah Hana Hanifah, giliran Vernita Syabilla ditangkap di Lampung karena dugaan kasus prostitusi. Dia ditangkap oleh Satreskrim Polresta Bandar Lampung di salah satu hotel pada Selasa (28/7) malam.

Menurut pihak kepolisian, VS ditangkap bersama dua pria yang merupakan muncikari. Vernita Syabilla diduga memasang tarif sebanyak Rp 30 juta untuk sekali kencan. Lantas apa penyebab prostitusi di kalangan selebritas atau artis masih terus bergulir? Pengamat Sosial UI, Devie Rahmawati menyampaikan pandangannya terkait fenomena tersebut. Hal utama yang disampaikan perempuan yang juga berprofesi sebagai dosen itu adalah tentang pelaku prostitusi yang bukan hanya dari kalangan selebritas.

“Belakangan kita diramaikan dengan berita kembali munculnya kasus prostitusi online yang dilakukan oleh selebritis. Yang harus saya garis bawahi yakni kasus prostitusi bukan hanya milik satu profesi tertentu, seperti selebritis,” kata Devie kepada jpnn.com, Senin (3/8).

Menurutnya, majunya teknologi membuat praktik terlarang, seperti prostitusi semakin berkembang. “Data global menunjukan, di era digital dengan masuknya ekonomi bawah tanah, seperti prostitusi, perdagangan narkoba ke dunia online, ini semakin memudahkan, dan membuka peluang bagi profesi manapun untuk bisa beraksi menggunakan platform digital untuk menjajakan barang, produk, layanan bersifat ilegal, termasuk transaksi seksual di dunia online,” bebernya.

Devie mengatakan terdapat sejumlah alasan yang kemudian membuat orang masuk ke jerat prostitusi baik offline maupun online. Menurutnya, dalam catatan akademi, ada tiga hal yang membuat pelaku prostitusi semakin marak, termasuk di kalangan selebritas.

“Pertama, faktor kekurangan ekonomi. Prostitusi memang menyediakan metoda ‘cepat’ dan ‘mudah’ untuk membantu orang-orang yang kesulitan dalam mendapatkan pendapatan untuk memenuhi kebutuhan hidup,” jelas Devie.

“Kedua adalah faktor kekerasan. Merek adalah orang-orang yang terpaksa karena kasus penjualan orang dan dijebak dalam utang yang kemudian membuat mereka ‘diperdagangkan’ oleh kelompok tertentu dalam praktik ekonomi bawah tanah prostitusi,” lanjutnya.

Sementara alasan ketiga orang ingin terjun ke bisnis prostitusi menurutnya adalah ketenaran. Devie nenilai manusia punya kecenderungan untuk menjadi perhatian bagi masyarakat lainnya.

“Ini yang kemudian membuat orang terobsesi untuk memiliki kehidupan serba hebat, indah, namun dicapai dengan cara yang mudah. Ketika seseorang ingin tampil menonjol di antara orang lainnya, salah satu yang paling mudah dilakukan adalah memperlihatkan tampilan fisik yang menarik ditandai dengan baju mewah, rumah wah, make up, teknologi. Ini yang lagi-lagi membuat prostitusi jadi jalan pintas,” imbuhnya.

Devie Rahmawati menyebut faktor di atas kemudian mendorong munculnya praktik prostitusi yang kini berkembang ke platform digital. Apalagi kemajuan teknologi mempermudah siapapun, dimana pun, kapan pun dapat melakukannya tanpa perantara.

“Pelaku transaksi prostitusi tanpa perlu menjadikan profesi utama mereka. Mereka bisa menjadikan praktik prostitusi online sebagai alternatif saat mereka membutuhkan. Ini yang tentu saja berbahaya dalam konteks sosial dan kesehatan, karena artinya akan banyak peluang bagi orang-orang yang ingin mengambil jalan pintas, mendapatkan tambahan ekonomi, atau menjadi korban praktik kekerasan, maupun kesulitan ekonomi untuk menggunakan online sebagai mereka untuk menjajakan produk atau layanan mereka,” tutup Devie Rahmawati. (ded/jpnn)




LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here