Beranda Ragam Lemang dalam Prosesi Adat Pernikahan Suku Besemah

Lemang dalam Prosesi Adat Pernikahan Suku Besemah

69
0
DOK/RKa
LEMANG: Masyarakat di salah satu desa di Kecamatan Tetap sedang bergotong-royong memasak lemang.

RKa ONLINE – TAK hanya menjadi kuliner khas Provinsi Bengkulu yang biasa disuguhkan dalam beberapa perayaan seperti Hari Raya Idul Fitri ataupun malam Nujuh Likur (malam ke-27 bulan Ramadan,red) atau sesudah panen raya. Makanan lemang yang terbuat dari beras ketan yang dimasak di dalam batang bambu, menjadi syarat mutlak, dalam sebuah prosesi adat di sejumlah daerah di Bumi Raflesia.

Seperti persyaratan adat yang harus dibawa pihak keluarga laki-laki, dalam proses lamaran. Ini berlaku hampir di semua daerah di Provinsi Bengkulu, termasuk di Bumi Se’ase Seijean, khususnya bagi suku Besemah, Kaur, dan Semende.

Dalam kehidupan masyarakat Besemah, dan masyarakat Kabupaten Kaur umumnya, ada banyak nama-nama untuk menyebut makanan lemang ini. Diantaranya lemang pengantin, lemang palayan, lemang bujang betuntut, lemang pelayan, lemang bakul fitrah, lemang maulid, dan lemang selesai panen padi. Masing-masing nama, berkaitan dengan fungsi dan waktu, masakan lemang disajikan sebagai hidangan utama suatu acara adat budaya.

Berdasarkan bahannya, dikenal adanya lemang gemuk, lemang pisang, lemang ubi dan lainnya. Selain itu dikenal juga lemang berdasarkan campuran atau kawan makannya, seperti lemang tapai yang merupakan campuran lemang bersama tapai. Walaupun jenis dan varian dari lemang bermacam-macam, namun dalam proses pembuatannya dan bahannya relatif sama.

Lemang pada pelaksanaan upacara perkawinan biasa disebut juga dengan lemang perkulean oleh masyarakat Besemah. Lemang yang digunakan sebagai bawaan pihak laki-laki (lanang) adalah lemang gemuk. Lemang gemuk ditandai dengan buluh (bambu) yang digunakan berwarna putih, karena kulit bambu itu telah dikupas kulitnya terlebih dahulu. Berbeda dengan lemang lainnya yang biasanya tidak dikupas kulitnya (tetap berwarna hijau lumut) seperti warna bambu umumnya. Penamaan lemang dalam pelaksanaan upacara perkawinan pada suku Besemah disesuaikan dengan konteks peruntukkannya ketika itu. Seperti lemang pengantin, lemang pelayan, lemang betuntut dan lainnya.

Lemang pengantin merupakan lemang yang diperuntukkan untuk pihak pengantin perempuan. Lemang pelayan sebagai lemang yang diberikan pada pemimpin masyarakat yakni kepala desa (depati) sebagai unsur pemerintahan. Lemang betuntut adalah lemang untuk bujang betuntut yang merupakan utusan pihak perempuan ketika mengunjungi rumah pihak lanang (laki-laki).

Artinya, bermacam nama lemang itu menunjukkan pemanfaatan (fungsi) lemang itu dalam pelaksanaan upacara perkawinan suku Besemah, walau secara fisik lemangya sama yakni lemang gemuk. Hal itulah yang menyebabkan menarik dan uniknya keberadaan lemang dalam kehidupan masyarakat suku Besemah.

Lemang Tapai Perlahan Ditinggalkan




LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here