Beranda Sastra dan Budaya Kusni Kasdut, Hikayat Bandit Revolusioner

Kusni Kasdut, Hikayat Bandit Revolusioner

125
0

Karya Wenri Wanhar*

LP Kalisosok, 16 Februari 1980 Dua belas penembak jitu ambil posisi. Dari dua belas bedil, hanya satu yang berpeluru. Memang begitu. Agar tak ada yang merasa bersalah. Maklum, siapa pula yang tak risau mencabut nyawa manusia. Bukankah manusia tak berhak menghakimi nawaitu manusia lainnya…
Dua belas penembak jitu ambil posisi. Bersiap di posisi masing-masing. Bedil disandang membidik sasaran. Target seorang anak manusia yang dikenal bernama Kusni Kasdut.

usadari hidupku hanya menunggu/suara 12 senapan dalam satu letupan/satu aba-aba pada satu sasaran/yaitu ajalku–puisi Haru-Biru, karya Kusni Kasdut. Sembilan belas tahun sebelumnya… 31 Mei 1961. “Ayok bergerak! Sesuai rencana…” tandas seorang laki-laki seraya berlalu. Kaki kirinya agak pincang. Namun langkahnya mantap. Ajakan itu tak berbalas sahutan. Ini memang kumpulan orang-orang yang tak banyak bicara.
Sedikit bicara banyak bekerja! Kelebatan-kelebatan bayangan manusia bergerak kian kemari, melaksanakan rencana yang telah tersusun rapi.

Seperti hari-hari biasanya, hari itu Museum Nasional Jakarta yang hanya berjarak sepelemparan batu dari Istana Presiden dibuka untuk umum. Seorang pemandu tampak asyik membeber kisah. Dia dikerubungi beberapa pengunjung. “Pemerintah Hindia Belanda membuka museum ini untuk umum pada tahun 1868,” papar pemandu itu.
“Sebetulnya, museum ini mulai dibangun sejak tahun 1862, ketika pemerintah Hindia Belanda berhasil mengumpulkan aneka koleksi untuk dipajang. Nah, koleksi-koleksi itu masih terawat baik hingga hari ini. Seperti yang saudara-saudara bisa lihat…” Meseum yang terletak di Jalan Merdeka Barat 12 ini mengoleksi benda-benda kuno dari berbagai penjuru tanah air. Seperti arca, prasasti, keramik, tekstil dan benda-benda kerajinan tangan kuno lainnya.

“Kenapa orang-orang sering menyebut tempat ini Museum Gajah?” seorang pengunjung yang sedari tadi antusias menyimak pemaparan pemandu, melempar tanya.
“Tahun 1871, Raja Chulalongkorn dari Thailand menghadiahi patung gajah dari bahan perunggu. Patung itu sampai hari ini masih bisa Anda dilihat di depan sana. Sejak patung besar itu hadir di tempat ini, sejak itu pula orang sering menyebut tempat ini Museum Gajah,” pemandu itu faseh menjelaskan.
Beberapa pengunjung tampak mencatat. Beberapa hanya manggut-manggut. Tiba-tiba… Seseorang berseragam polisi masuk dan menodongkan senjata ke arah kerumunan. Baik pemandu dan pengunjung sontak terperanjat.

“Diam di tempat dan jangan coba lakukan apa-apa!” Orang berseragam polisi itu menghardik. “Tak akan terjadi apa-apa jika kalian ikuti perintah saya…” Para sandera tak berkutik. Seseorang dari kerumunan pengunjung bergerak cepat. Entah kemana.  Sejurus kemudian seorang petugas jaga museum masuk. Langkahnya terhenti ketika orang berseragam polisi itu mengarahkan bedil dan menghardik. “Diam! Jangan macam-macam! Tak perlu belagak pahlawan…”       Petugas itu hirau. Dia coba menjalankan tugasnya; mengamankan wilayah yang diamanatkan padanya.

Dan hal itu berbuah petaka. Orang berseragam polisi yang postur tubuhnya tak bisa dikatakan tinggi itu tak main-main dengan ancamannya.  “Door…!” Petugas tersebut terkapar meregang nyawa. Timah panas mengantarnya pada tidur panjang.   Para sandera kian bergidik. Saling berpegangan. Berdoa menurut keyakinan dan kepercayaan masing-masing. Semua doa yang hafal dipanjatkan.  Peristiwa itu terjadi begitu cepat. Sebuah mobil jeep berlalu. Kencang meninggalkan asap. Sedikitnya 11 batu permata antik koleksi museum itu raib.   Jakarta geger. Indonesia bergetar. Berita perampokan disertai pembunuhan menghiasi halaman utama surat kabar.

Polisi kasak-kusuk. Beberapa saksi dimintai keterangan. Polisi menyimpulkan bahwa otak peristiwa Museum Gajah adalah Kusni Kasdut. Bandit yang dijuluki Robinhood Indonesia. Kusni Kasdut pun jadi buronan nomor wahid.  hati menderu-deru, belenggu memburu/beradu cepat dengan peluru– puisi Haru-Biru, karya Kusni Kasdut.
***
Waluyo, seorang anak yatim dari keluarga petani miskin di Blitar. Kemiskinan menempahnya mengarungi samudera kehidupan. Semangat mengangkat derajat keluarga membuatnya tumbuh menjadi bandit. Musuhnya kolonilisme Belanda dan fasisme Jepang, penjajah yang dianggapnya membuat keluargnya terhempas dalam kemiskinan.

Jalanan menjadi pilihan. Jalanan mengajarkan banyak hal. Mulai ilmu bersilat badan, bersilat otak hingga bersilat lidah. Dan Waluyo berganti nama Kusni Kasdut. Entah pelet apa yang dipakainya, Kusni Kasdut berhasil menggaet hati seorang gadis indo dari keturunan berada. Dan ketika revolusi yang dicetuskan melalui proklamasi 17 Agutus 1945 pecah, sang kepala bandit terseret ke pusarannya.   Sebagai anak muda yang pemberani, pandai bergaul dan banyak kawan, Kusni Kasdut didatangi Usman, Mulyadi dan Abu Bakar dari Tentara Keamanan Rakyat (TKR). Dia diminta bergabung dalam perjuangan mengusir Belanda yang hendak menggerogoti kemerdekaan Indonesia.

Di masa revolusi mempertahankan kemerdekaan, jawara dan orang-orang yang dicap bandit oleh kolonialisme mencapai puncak kejayaan.  Kusni Kasdut menerima tawaran itu. Dia memimpin Batalion Rampal Malang. Otomatis para pengikutnya turut bergabung dalam unit kelaskaran ini. Mereka angkat senjata, gerilya mengusir penjajah. semua yang ada tak selalu terlihat/jarak antar saat begitu dekat/situasilah yang memaksa dan membuat kuberlari/rindukan terang/pada pekat malam kuterjang/serpihan paku, kaca dan kawat berduri/bulan tak peduli, turuti kata hati– puisi Haru-Biru, karya Kusni Kasdut. Penghujung 1949 perang usai. Belanda angkat kaki dari bumi pertiwi. Namun apa hendak dikata, harapan Kusni Kasdut jauh panggang dari api. Kemiskinan bukannya menjauh, malah semakin mendekapnya. Sementara perut harus diisi. Anak istri harus dinafkahi.

“Betul senjata kita akan dilucuti?” “Ya, pemerintah Indonesia memberlakukan kebijakan Re-Ra.” “Apa itu Re-Ra?” “Restruktrisasi dan Rasionalisasi TNI.”

“Apa itu?” “Merampingkan jumlah tentara. Menyatukan komando laskar-laskar ke dalam satu komando yaitu TNI, serta penurunan pangkat-pangkat tentara. Bahkan Jendral Besar Panglima Soedirman turun pangkat jadi Letnan Jenderal.” “Kita bagaimana?” “Tersingkir. Dari sekitar 400 ribu anggota laskar di awal 1948, hanya tinggal 57 ribu jadi prajurit tetap.”   Kusni Kasdut bukan pemalas! Pimpinan gerilyawan perang itu mencari pekerjaan. Tentu yang sepadan dengan kemampuannya. Berbekal pengalaman perang saat revolusi fisik 1945, dia mendaftar masuk TNI. Namun ditolak.

Dia tentu kecewa. “Mentang-mentang kaki kiriku cacat. Toh, ini juga akibat ditembus peluru panas sewaktu perang mempertahankan kemerdekaan. Sial!” Gumamnya dalam hati. kehidupan adalah perlawanan tanpa penyesalan/kesalahan hanyalah lawan kata kebenaran/selanjutnya engkau pasti tahu–puisi Haru-Biru, karya Kusni Kasdut. “Dia berhasil kabur…” “Ahaaa…baginya penjara memang bukan hal aneh.”

Ya, memang. Sewaktu perang revolusi kemedekaan berkali-kali dia ditangkap Belanda. Dan selalu berhasil melarikan diri.” “Ya, seperti sekarang ini. Dia berhasil lolos…” Dua laki-laki itu berbisik-bisik di balik terali besi. Topik pembicaraan seputar kawan sekamar mereka yang baru saja berhasil melarikan diri. Senyap…sunyi…hanya berani bisik-bisik.  Sementara, di luar penjara media massa juga membicarakan topik serupa. Tapi tidak bisik-bisik. Kisah itu menjadi laporan utama. Oplah pun meningkat tajam. Orang-orang selalu menunggu berita tentang sosok Si Robinhood Indonesia yang lagi-lagi lolos dari penjara. Inilah kisah Kusni Kasdut…

Surat kabar harian terkemuka Ibukota memberitakan;  Si Kancil memang banyak akal. Dia lagi-lagi berhasil kabur dari penjara. Terbukti sudah, bahwa dia mampu melarikan diri dari penjara mana pun. Dengan pelarian yang ini, tercatat sebanyak tujuh kali dia lolos dari penjara. Rekor baru telah terpecahkan. Rekor sebelumnya dipegang Jack Masrene, penjahat legendaris dari Perancis yang tercatat berhasil kabur dari penjara sebanyak lima kali. Jakarta, 1960  “Bung kenal Ali Badjened?”

Arab kaya raya itu…?” “Pelit betul dia…” “Rampok saja!” suara parau Bir Ali menggelegar. “Kita yang dulu berjuang mempertahankan kemerdekaan mati-matian, hidup begini-begini saja. Ehh…malah dia yang menikmatinya. Pelit lagi…” Kusni Kasdut menimpali.

Perbincangan antara dua mantan pejuang yang tersisih itu terjadi di kawasan Bioskop Megaria, Cikini, Jakarta Pusat.  Malam kian larut. Berbotol-botol bir berserakan. Sesekali mereka mengadu botolnya lalu sama-sama menenggok minuman masing-masing.  “Tambah lagi…tambah botol tambah seni…tambah minum tambah manis…” ujar Bir Ali cekikikan.  Senang sekali dua sekondan ini malam itu. Anak Cikini ini memang dikenal jago minum. Karena kesukaannya pada bir-lah sehingga orang-orang memanggilnya Bir Ali. Tak hanya jago minum, Bir Ali juga jago mencuri hati perempuan. Ellya Khadam, penyanyi kawakan itu berhasil dinikahinya.

“Hei anak muda…sini,” Kusni melambaikan tangan ke arah sejumlah pemuda yang juga asyik nongkrong di kawasan Megaria.  “Ini uang… tolong carikan minuman. Kita minum sama-sama malam ini. Panggil itu kawan-kawanmu. Gabung kemari. Kalau belum makan, ini tambahan uang. Belikan kawan-kawanmu itu makan. Sisanya beliin rokok atau apapun lah..” Memang begitu Kusni. Dia tak bisa menikmati kehidupan kalau orang di sekitarnya kesusahan. Tak bisa makan enak bila orang sekililingnya kelaparan. Uang tak kemana. Kebersamaan lebih menyenangkan. Uang hasil rampokan kerap dibagikannya kepada rakyat miskin; orang-orang senasib dengannya. “Tambah lagi…tambah botol tambah seni…tambah minum tambah manis,” ujar Bir Ali yang sudah mulai tenggen.

“Ali Badjened dirampok…” “Ali Badjened dibunuh…” “Arab kaya raya ditembak…”   Di lampu merah para pengasong koran bersorak-sorak menjajakan koran. Surat kabar laris manis. Hari itu hampir seluruh surat kabar menaikkan oplah. Biasa, Robinhood beraksi lagi.   Surat kabar harian utama Ibukota melaporkan;

Ali Badjened dirampok sore hari ketika baru saja keluar dari kediamannya di kawasan Awab Alhajiri, Kebon Sirih. Dia meninggal saat itu juga akibat peluru yang ditembakkan dari jeep. LP Kalisosok, 16 Februari 1980 Dua belas penembak jitu ambil posisi. Dari dua belas bedil, hanya satu yang berpeluru. Bedil disandang membidik sasaran.  Doooooor…

Kusni Kasdut roboh. Revolusi memakan anaknya. ***
*Cerpen ini dijahit oleh Wenri Wanhar, di Bantaran Kali Ciliwung, Depok, 14 November 2011, ketika matahari berada di puncak kepala. Mulanya dipulish di situs facebook dengan judul Kusni Kasdut Elegi Anak Kandung Revolusi Indonesia.  (wow/jpnn)




LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here