Beranda Bedah Buku JURNALISME INVESTIGASI: INTISARI BUKU KARYA DANDHY DWI LAKSONO

JURNALISME INVESTIGASI: INTISARI BUKU KARYA DANDHY DWI LAKSONO

101
0

Trik dan Pengalaman Para Jurnalis Indonesia Membuat Liputan Investigasi di Media Cetak, Radio, dan Televisi

Oleh: Muhammad Isnaini,SST

(General Manager Radar Kaur Online)

MUKADIMAH

Mengambil intisari dari sebuah buku berjudul Jurnalisme Investigasi karya Dandhy Dwi Laksono menjadi tantangan serius bagi penulis sekaligus menarik. Sebab buku ini unik. Buku yangbukan hanya mengupas cerita pengalaman Dandhy sebagai jurnalis investigasi. Tapi dia berhasil meramunya dengan berbagai pengalamannya dan rekan-rekannya alami dalam serangkaian kisah. Dandhi juga merangkum bahan seminar yang ditulis oleh Aliansi Jurnalistik Indonesia (AJI).

Buku ini bisa dijadikan sebuah referensi bagi jurnalis dari berbagai media massa, karena di dalam buku ini dipaparkan bagaimana kesamaan dan perbedaan peliputan investigasi bagi media cetak, televisi, dan radio.

Sebagai sebuah catatan, bahwa penulis membatasi hanya mengambil intisari yang sangat penting dari buku tersebut untuk berguna dalam Mengarahkan Liputan Investigasi.

  1. APA ITU INVESTIGASI?

Buku ini secara langsung memaparkan tentang sebuah rangkaian kegiatan investigasi. Investigasi itu sebuah kegiatan untuk mengungkap kasus kejahatan terhadap kepentingan publik. Kejahatan yang biasa dilakukan secara sistematis, terkoodinir, dilakukan oleh orang penting dan melibatkan banyak pihak. Seorang jurnalis harus mendapatkan jawaban semua hal dan tidak menyisakan pertanyaan sedikitpun. Kegiatan investigasi jurnalis tidak ditentukan waktu, jarak perjalanan, dana yang dibutuhkan dan dan kesulitan yang dihadapi. Dari semua fakta-fakta berserakan yang berhasil diungkap harus dapat dikontruksi dalam sebuah laporan komprehensif dalam kemasan menarik. Laporan ini juga tidak ditentukan panjang pendeknya.

Laporan Investigasi juga mesti dapat menjawab dan mendudukkan aktor-aktor yang terlibat disertai buktinya. Mengungkap tujuan kasus kejahatan dirancang, aktor utamanya, siapa yang berperan sebagai pengecoh, siapa yang dikambinghitamkan, dan siapa korbannya. Dan yang tidak kalah penting apakah laporan investigasi yang dibuat sudah mampu membuat pembaca/ pendengar/ penonton paham dengan kompleksitas masalah yang dilaporkan.

5 Elemen Investigasi

Buku ini mengemukakan 5 elemen investigasi yang wajib dipahami oleh wartawan investigasi, sebagai berikut:

  1. Mengungkap kejahatan terhadap kepentingan publik, atau tindakan yang merugikan orang lain.
  2. Skala dari kasus yang diungkap cenderung terjadi secara luas atau sistematis (ada kaitan atau benang merah).
  3. Menjawab semua pertanyaan penting muncul dan memetakan persoalan dengan gamblang.
  4. Mendudukkan aktor-aktor yang terlibat secara lugas, didukung bukti-bukti yang kuat.
  5. Publik bisa memahami kompleksitas masalah yang dilaporkan dan bisa membuat keputusan atau perubahan berdasarkan laporan.

Selain 5 elemen diatas, seorang jurnalis senior Robert Greene dari Newsday (Amerika) menegaskan adanya elemen “disembunyikan” dan “orisinal” dalam laporan investigasi. Bukan menindaklanjuti investigasi pihak lain, seperti polisi atau jaksa. Ia juga menegaskan pentingnya elemen “dirahasiakan oleh mereka yang terlibat”. Jadi bila ada kejahatan yang sengaja ditutup-tutupi, maka itulah pintu masuk untuk jurnalisme investigasi.

Menyamar, menggunakan kamera tersembunyi, mengamat-amati lokasi dari dalam mobil adalah teknis investigasi. Tapi bukan Jurnalisme Investigasi. Sebab masih banyak pekerjaan lain dalam Jurnalisme Investigasi seperti perencanaan, penyusunan laporan yang komprehensif, pengemasan yang menarik, pengaturan logistic, implikasi bagi kepentingan public, dan aspek-aspek pasca-publikasi yang perlu diperhatikan. Seperti ancaman keselamatan atau gugatan hukum. Semuanya adalah kerja yang melebih sekedar action ala detektif dilapangan.

Perbedaan Investigative, In-Depth Reporting dan Regular News

Investigative News:

  • Laporannya bersifat menunjukkan
  • Lebih menunjukkan apa dan siapa (what and who)
  • Tujuan laporan adalah membeberkan dan meluruskan persoalan dengan bergerak maju ke pertanyaan: bagaimana bisa, sampai sejauh apa, dan siapa saja.

In-Depth News:

  • Laporannya bersifat menjelaskan
  • Lebih menjelaskan bagaimana dan mengapa (how dan why)
  • Tujuan dari laporan adalah memberi pengetahuan dan pemahaman

Regular News:

  • Laporannya bersifat menceritakan
  • Menceritakan apa, siapa, dimana, kapan, mengapa, dan bagaimana (5W+1H)
  • Tujuan dari laporan adalah sebagai informasi (data) bagi publik

Investigasi Sebagai Teknik Liputan

Untuk menggunakan Investigasi sebagai teknik liputan, jurnalis wajib memiliki sikap skeptis. Bukan hanya sekedar wartawan “jumpa pers”, menelan bulat-bulat setiap yang dikatakan oleh narasumber tanpa melakukan verifikasi. Artinya selalu diliputi dengan pertanyaan-pertanyaan, bukan untuk mencari kesalahan namun untuk menggali informasi dari berbagai narasumber. Sehingga wartawan tidak boleh hanya terpaku pada informasi yang sudah tersedia. Seperti hanya menyodorkan tape dan kamera tanpa pernah melakukan verifikasi di lapangan.

Esensi Investigasi: Bukan Soal Besar Kecilnya Isu

Esensi Investigasi tidak terletak pada besar-kecil isu atau kasus yang dibongkar, melainkan pada manfaat atau dampak apa yang ditimbulkan setelah kasus tersebut terbongkar. Zaman sudah menuntut wartawan tidak terpaku pada investigasi yang menyangkut pejabat atau politisi saja. Tetapi juga kejahatan terkait relasi produsen-konsumen atau kejahatan korporasi. Kini persoalan bukan lagi apakah isu harus nasional, menangkut istana Negara, Bank Sentral. Tetapi bisa juga kantor polsek, pasar tradisional, bahkan tempat ibadah. Suap menyuap di terminal atau perempatan agar para sopir angkot bisa berhenti di rambu larangan adalah topic yang menarik untuk diturunkan sebagai laporan investigasi.

Wartawan Bukan Polisi

Investigasi yang dilakukan jurnalis bukan investigasi dalam konsep kepolisian. Meski sebagian teknik yang digunakan bisa saja sama, seperti pengamatan, pegintaian, atau bahkan penyamaran atau uji laboratorium. Tapi jurnalis tetap jurnalis. Ia bekerja dengan batasan yang sangat jelas. Jurnalis tidak bisa menggeledah rumah atau kantor seseorang. Jurnalis tidak bisa menyita dokumen, jurnalis juga tidak mungkin memanggil paksa narasumbernya, jurnalis juga tidak bisa memaksa narasumber untuk memberikan pernyataan sesuai kehendak jurnalis atau mustahil juga menangkap seseorang.

Demikian juga, dengan alasan apapun, jurnalis tak dibenarkan mengambil atau mencuri sebuah dokumen dari pihak lain. Sebab tetap saja, kebenaran jurnalistik bukan kebenaran hukum. Fakta jurnalistik juga tidak selalu sama dengan fakta hukum.

Bila hasil investigasi jurnalis tidak lebih hebat daripada investigasi polisi atau jaksa, itu memang sudah “kodrat”nya. Mustahil membandingkan hasil kerja jurnalis dengan aparat yang memiliki kewenangan menyita dokumen, menggeledah TKP, memanggil paksa atau menangkap orang.

Karena itu laporan investigasi yang baik, tak harus berakhir dengan vonis penjara bagi aktor-aktor yang dianggap terlibat. Tapi bagaimana dari laporan itu, masyarakat (termasuk institusi hukum atau Negara) bisa mengambil keputusan atau menindaklanjutinya.

  1. MODAL INVESTIGASI

Dalam proses liputan investigasi wartawan harus memiliki modal dasar. Ada 5 modal dasar dalam investigasi, sebagai berikut:

Modal 1: Kemauan, Keberanian, Dan Ketekunan

  • Kemauan artinya wartawan harus mau meluangkan waktu ekstra, artinya wartawan yang ingin melakukan investigasi harus punya komitmen untuk berkorban baik waktu maupun materi sebelum menuntut pihak lain untuk berkorban. Intinya, dalam melakukan liputan investigasi pengorbanan waktu menjadi indikator apakah seorang jurnalis memiliki kemauan yang kuat atau tidak. Bukan hanya wartawan, perusahaan yang ingin pamor/prestis medianya naik karena kerap membuat liputan-liputan yang berpengaruh, harus rela melakukan investasi waktu agar kultur investigasi berkembang diinstitusinya.
  • Keberanian artinya wartawan harus memupuk Nyali. Nyali wartawan adalah salah satu modal utama dalam kerja-kerja investigasi. Manajemen nyali adalah sesuatu yang harus dilakukan tidak saja oleh mereka yang bekerja dilapangan, tapi juga tim pendukungnya. Tim pendukung yang bekerja dikantor tidak boleh menjadi “provokator” yang bisa menjerumuskan rekannya dilapangan dalam resiko, tapi disaat yang sama, mereka juga tak boleh menjadi factor yang melucuti semangat, dan tanpa disadarai, menjadi bagian terror yang akan menghambat gerak maju proses peliputan.

Seorang jurnalis harus bisa memahami jika liputan investigasi memiliki resiko cukup tinggi. Dalam buku ini dicontohkan beberapa hasil liputan investigasi dengan tingkat resiko yang cukup tinggi dimana wartawan investigasi harus siap mengadapinya. Namun demikian, meski mencontohkan hasil investigasi yang beresiko tinggi, buku ini juga tidak mengajarkan pembaca untuk nekat atau mengambil resiko. Resiko bisa datang dalam bentuk yang ekstrem, tetapi juga bisa diukur dan diperkirakan. Jam terbang dan naluri adalah faktor penting untuk mengukur ancaman untuk bisa menghasilkan liputan yang berkualitas.

  • Ketekunan atau keuletan. Mereka yang sukses dalam investigasi kadang bukan wartawan yang pandai, tapi wartawan yang tekun dan ulet. Ibarat atletik, investigasi membutuhkan pelari-pelari jarak jauh dengan papas panjang-panjang, dari pada sprinter 100 meteran.

Tanpa ketekunan maka wartawan akan mudah frustasi dan buru-buru dalam mengambil keputusan.

Modal 2: Jejaring yang Luas.

Seorang jurnalis investigasi harus memiliki jejaring yang luas untuk menghasilkan liputan investigasi yang berkualitas dan dapat dipertanggungjawabkan. Seperti misalnya, seorang jurnalis harus memiliki jejaring mulai dari orang terdekat sesama wartawan sampai orang-orang penting dan lain-lain. Namun wartawan yang melakukan kerja investigasi harus dipastikan memiliki “dosis kedekatan yang sehat” dengan para pejabat. Agar tidak tumpul akibat tidak bisa menjaga jarak.

Dalam buku juga dipaparkan beberapa istilah jejaringan, yaitu:

  • Pintu Keluar Terdekat. Wartawan harus mampu memanfaatkan narasumber terdekat mulai dari membuat jejaring sesama wartawan.
  • Nara Sumber “Durian Runtuh. Dalam kegiatan investigasi ada 2 faktor yang menentukan, yakni usaha keras dan keberuntungan. Bisa saja seorang wartawan bertemu narasumber penting yang tidak disengaja.Itu namanya narasumber “Durian Runtuh”. Namun keberuntungan tidak akan datang tanpa dipancing dengan usaha keras.
  • Deep Throat atau Whistle Blower. Dalam jurnalistik ini dimaknai sebagai “orang dalam” yang memberi informasi penting dalam sebuah proses investigasi.

Mereka yang berpotensi menjadi whistle blower, antara lain:

  • Orang dalam instansi atau kelompok yang menjadi target.
  • Pesaing atau competitor (contoh: dalam tender proyek).
  • Bekas orang dalam (yang sudah pensiun, keluar atau pindah).
  • Kelompok yang menjadi oposan (barisan sakit hati atau kelompok yang termarjinalkan).
  • Orang-orang di lingkaran target yang tertangkap, sedang dihukum atau “bertobat”.

Modal 3: Pengetahuan Yang Memadai

Informasi dan ide liputan investigasi sebenarnya berserak di sekitar kita. Yang perlu kita lakukan adalah membuka semua pancaindera dan terus-menerus melatih kepekaan, ketekunan, dan kesabaran.

Setelah menerima sebuah informasi, yang perlu dilakukan selanjutnya adalah menakar atau menentukan nilai informasi itu.

Menilai Informasi (Assesment)

Seiring pengalaman dilapangan selama menjadi jurnalis, maka pengetahuan jurnalis akan semakin bertambah, sehingga assessment-nya pun lebih tajam.

Pada titik tertentu, rasio dan nuraninya akan mulai terusik. Dititik itulah, lalu dia memutuskan untuk melakukan investigasi tentang apa yang sesungguhnya terjadi.

Sepotong informasi baru memiliki nilai berita bila wartawan memiliki pengetahuan yang cukup untuk menakar dan menilai kadarnya.

Modal 4: Keterampilan Mengemas Laporan

Sangat penting bagi wartawan mengenal karakter media dan topic liputan investigasi yang akan digarapnya. Tidak semua topik liputan investigasi cocok untuk semua media. Ada topik-topik tertentu yang akan lebih maksimal dampaknya bila digarap oleh jenis media tertentu.

Rumusnya sederhana:

  • Angka dan data untuk media cetak/ internet
  • Rekaman suara untuk radio
  • Gambar bergerak untuk televisi

Namun untuk semua Wartawan dar segala jenis media yang paling penting adalah harus memiliki keterampilan dan jeli dalam pengemasan laporan investigasi. Apabila wartawan gagal menyajikannya menjadi menu yang enak dan menarik, maka semua usahanya akan sia-sia.

 Modal 5: Komitmen Institusi Media

Dukungan dan komitmen dari institusi media untuk rela membebaskan wartawannya dari kewajiban “mengejar setoran” berita harian dan memberikan kesempatan menggali informasi untuk melakukan penyelidikan. Media juga mesti rela menyiapkan ruang bagi laporan-laporan panjang dan mendalam. Tulisan dan laporan investigasi yang bagus dapat mengangkat citra dan gengsi media tersebut. Sehingga akan berdampak juga dengan citra bisnis perusahaan. (bersambung)




LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here