Beranda Bedah Buku JURNALISME INVESTIGASI: INTISARI BUKU KARYA DANDHY DWI LAKSONO

JURNALISME INVESTIGASI: INTISARI BUKU KARYA DANDHY DWI LAKSONO

139
0

Trik dan Pengalaman Para Jurnalis Indonesia Membuat Liputan Investigasi di Media Cetak, Radio, dan Televisi

Oleh: Muhammad Isnaini,SST

(General Manager Radar Kaur Online)

Sebelumnya https://radarkaur.rakyatbengkulu.com/jurnalisme-investigasi-intisari-buku-karya-dandhy-dwi-laksono-2/

  1. MENGEMAS LAPORAN INVESTIGASI:

Mendapatkan materi liputan (gathering) adalah satu hal, dan mengolah lalu menyajikan ke public adalah hal lain (production/processing).

Overview: Radio, Cetak dan Televisi

Setiap media memiliki karakter yang menjadi kelebihan sekaligus kelemahannya. Karena itu tidak semua jenis isu bisa maksimal dihadirkan di media tertentu. Hal tersebut turut memengaruhi strategi pengemasannya.

Wartawan investigasi harus memahami realitas dan fleksibilitas media yang akan menayangkan karyanya, sehingga pengemasan, teknik penulisan, dan strategi penyampaian isi kepada publik akan tepat sasaran. Teknik penulisan naskah menjadi bagian yang tak kalah penting. Cara penulisan media cetak dengan radio dan televisi tentu berbeda. Media cetak disampaikan dengan bahasa tulis yang lebih memiliki ruang mengemas informasinya dalam aneka pilihan menu, seperti teks, foto, atau grafis. Sedangkan radio dan televisi menggunakan bahasa tutur lengkap dengan audio untuk radio dan rekaman video untuk televisi.

Internet: Paling Atraktif!

Dalam hal pengemasa, sebuah laporan investigasi yang dipublikasi media online (Internet) bisa disebut paling atraktif dibandingkan ketiga jenis media konvensional pendahulunya. Melalui internet, laporan investigasi bisa terdidi dari naskah, foto, aneka grafis, rekaman audio, bahkan video streaming sekaligus. Di internet, pembaca bahkan bisa dihubungkan ke artikel atau dokumen lain yang relevan, tanpa perlu “mengotori” artikel utama atau round up-nya dengan berbagai catatan kaki, atau anak kalimat.

  1. KODE ETIK

Bila dalam peliputan, wartawan yang mematuhi Kode Etik Jurnalistik masih kerap mendapatkan “efek samping” peliputan. Tentu dampak akan lebih besar didapat jika kode etik jurnalistik diabaikan atau dikesampingkan.

Efek samping berbeda dengan efek utama. Dalam setiap berita yang ditayangkan ke publik akan menimbulkan dampak atau efek samping peliputan. Oleh karena itu, disetiap peliputan ada dua lemen pokok, yaitu isi berita dan metode pemberitaan.

Implikasi isi berita merupakan efek utama. Sedangkan, metode pemberitaan merupakan efek samping yang merujuk pada di luar substansi liputan (metode mengumpulkan atau menyampaikan berita).

Dalam mempertanggungjawabkan pemberitaan di depan hukum, wartawan mempunyai Hak Tolak (UU Pers Nomor 40/1999, pasal 4 butir 4).

Tujuan utama Hak Tolak adalah agar wartawan dapat melindungi sumber-sumber informasi, dengan cara menolak menyebutkan identitas sumber informasi (penjelasan UU No.40/1999).

Namun, esensi Jurnalisme tetaplah kepentingan publik. Kepentingan jurnalisme tidak boleh berdiri lebih tinggi daripada kepentingan publik. Prinsip kerahasiaan narasumber atau ketentuan embargo, tidak boleh menciderai kepentingan publik itu sendiri.

Wartawan harus tetap memantau narasumber hingga kasus tersebut tuntas. Namun, wartawan dapat menolak kesepakatan dengan narasumber (yang berada dipihak tersangka atau buronan polisi) apabila menyangkut kepentingan umum. Wartawan tidak boleh melakukan intervensi termasuk jual beli informasi.

Dalam hal ini, wartawan berhak untuk menyembunyikan identitas narasumber sehingga menyebutnya dengan sumber anonim. Ada 7 kriteria sumber anonym, yaitu 1) sumber berada pada lingkaran pertama peristiwa; 2) Keselamatan narasumber terancam; 3) motif sumber anonim hanya untuk public; 4) integitas sumber harus diperhatikan; 5) penggunaan sumber anonim harus seizin atasan; 6) didukung dua sumber lain yang tidak saling berhubungan, dan 7) kesepakatan batal apabila sumber anonim berbohong.

Wartawam tidak boleh mencuri data atau materi peliputan. Sedangkan, menyamar dan merekam diam-diam dapat dipertimbangkan untuk kepentingan public, Selain itu, hasil wawancara melalui telepon dapat disiarkan apabila melalui izin narasumber. Kemudian, penggunaan kamera tersebunyi bisa digunakan dengan catatan untuk kepentingan publik, dan dilakukan di tempat umum, tidak melanggar privasi orang yang berada dalam rekaman, dan harus memenuhi ketentuan.

  1. INTISARI

Intisari yang didapat dari Buku Journalime Investigasi karangan Dandy Dwi Laksono, dengan batasan untuk Mengarahkan Liputan Investigasi, dibagi menjadi 3 yaitu:

Sebelum Liputan Investigasi

    • Jurnalisme investigasi harus memenuhi 5 elemen investigasi. Tanpa kelima elemen tersebut, sebuah laporan panjang barangkali hanya bisa disebut sebagai laporan mendalam.
    • Modal investigasi dipersiapkan untuk merancang sebuah liputan investigasi. Modal yang dimaksud tentu bukan semata-mata anggaran, tetapi yang jauh lebih penting adalah kemauan, keberanian, dan ketekunan, jejaringan, pengetahuan menilai informasi dan lainnya.
    • Garis besar perencanaan dalam sebuah liputan investigasi harus dibuat secara matang misalnya: (1) membentuk tim, (2) melakukan riset, obsevasi awal, atau survei, (3) menentukan angle dan merumuskan hipotesis, (4) merancang strategi eksekusi, (menyiapkan skenario pasca-publikasi).

Saat Liputan Investigasi

Dalam pelaksanaan atau eksekusi liputan investigasi perlu memperhatikan sebagai berikut:

  • Ada 3 elemen utama dalam melakukan tindakan (action) liputan investigasi yaitu:
    1. Tahap: proses mencari bukti dan mencari kesaksian.
    2. Metode: menelusuri dokumen, menelusuri orang, dan menelusuri uang.
    3. Teknik: penyamaran(undercover), observasi (observation), pengintaian (surveillance), penempelan (embedded), atau immerse (melebur) dalam melakukan liputan.
  • Ada 5 unsur strategi investigasi meliputi: (1) tahapan yang jelas, (2) metode yang digunakan, (3) teknik yang dipakai, (4) pemilihan sumber daya manusia, (5) logistik.
  • Secara empirik, jenis-jenis narasumber yang biasa kita temui dalam liputan investigasi adalah sebagai berikut: (1) narasumber petunjuk, (2) narasumber utama, (3) narasumber pendukung, (4) narasumber ahli. Tugas investigasi adalah memaparkan sebuah persoalan segamblang-gamblangnya, termasuk dari pihak yang kita duga melakukan kejahatan publik.

Pasca Liputan Investigasi

  • Paca liputan investigasi pastinya adalah mengemas laporan. Hal tersebut perlu memperhatikan: (1) strategi membuka cerita, (2) pengantar masalah, (3) bagian inti masalah, (4) penjabaran masalah, (5) klimaks, (6) kesimpulan dan penutup.
  • Bagian paling penting dari liputan apa pun, terutama investigasi, adalah perlindungan narasumber. Tugas wartawan tidak hanya meyakinkan orang untuk berbicara, tetapi juga menerangkan dampak yang timbul setelah orang itu berbicara, dan ikut memantau apa yang terjadi setelahnya.
  • Kemudian melakukan advokasi melalui pemberitaan untuk mengawal kasus hingga tuntas sehingga narasumber merasa tidak ditinggalkan.

Terimkasih kepada Bapak Marah Sakti Siregar selaku Penguji pada Uji Kompetensi Wartawan Utama, PWI Bengkulu, Tanggal 2-3 Maret 2021.

SUMBER BACAAN:

Laksono, Dandhy Dwi. 2010. Jurnalisme Investigasi. Bandung: Penerbit Kaifa




LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here