Beranda Bedah Buku JURNALISME INVESTIGASI: INTISARI BUKU KARYA DANDHY DWI LAKSONO

JURNALISME INVESTIGASI: INTISARI BUKU KARYA DANDHY DWI LAKSONO

117
0

Trik dan Pengalaman Para Jurnalis Indonesia Membuat Liputan Investigasi di Media Cetak, Radio, dan Televisi

Oleh: Muhammad Isnaini,SST

(General Manager Radar Kaur Online)

Sebelumnya https://radarkaur.rakyatbengkulu.com/jurnalisme-investigasi-intisari-buku-karya-dandhy-dwi-laksono/

  1. PERENCANAAN INVESTIGASI:

Garis besar perencanaan dalam sebuah proyek investigasi adalah sebagai berikut:

Langkah I: Membentuk Tim (multi spesialisasi)

Tim investigasi tidak berarti harus banyak orang. Semua tergantung pada kompleksitas kasus yang ditangani.

Fungsi dari tim dalam investigasi bukanlah soal pembagian kerja semata, tetapi untuk saling menjaga substansi cerita.

Setiap anggota tim bekerja sebagai sebuah system. Sehingga jika ada anggota tim yang disfungsi, maka yang lain ikut terimbas, konstruksi laporan yang ingin dihasilkan akan gagal. Misi jurnalisme investigasi pun gagal.

Langkah II: Melakukan Riset dan observasi awal (survey)

Riset Sebagai Inti Investigasi

Riset dalam investigasi biasa dipahami sebagai fase yang harus dilakukan sebelum turun ke lapangan. Tetapi ada kalanya, riset juga menjadi inti dari action investigasi itu sendiri, terutama bilsa dari hasil riset itu bisa ditarik kesimpulan. Atau riset itu menjawab hipotesa yang telah kita bangun.

Observasi awal atau Survey

Adalah untuk pengumpulan informasi guna menyusun perencanaan. Dalam hal ini, berbeda pengertiannya teknik observasi dalam konteks liputan media cetak atau radio.

Langkah III: Menentukan Angle (Fokus) dan merumuskan hipotesis

Sebelum memulai investigasi, jurnalis terlebih dahulu mendiskusikan untuk menjawab pernyataan fundamental: apa yang hendak kita ungkap?

Dari situ kemudian sebuah investigasi dapat dimulai. Sudut bidik liputan (angle) penting agar fokus kebagian tertentu hendak dicari jawabannya.

Pohon Masalah

Untuk dapat mempermudah dalam menentukan fokus akan lebih baik dibuat rangkaian masalah atau pohon masalah, sehingga kronologinya dapat terlihat jelas.

Jurnalis tidak boleh memakai “kacamata kuda” dan jangan segan-segan mengubah fokus setelah terlebih dahulu mendiskusikan dengan tim.

Merumuskan Hipotesa

Hipotesa disusun setelah menentukan angle. Sedangkan untuk merumuskan sebuah hipotesis harus berdasarkan dugaan yang dikaitkan dengan logis dan potongan fakta yang sudah ada ditangan.

Hipotesa bisa disusun secara deduksi (logika) maupun induktif (Informasi).

Beda merumuskan hipotesa dengan menentukan angle atau fokus liputan:

Bila angle bertanya: “apa yang hendak anda ungkap?”. Maka hipotesa akan menjawab pertanyaan itu. Lalu merumuskan dugaan anda berdasarkan kaitan logis dan potongan fakta yang sudah ada ditangan.

“…Brainstorming, lakukan dengan kegilaan, do it with passion, buka mata, buka telinga, buka hati, meskipun terhadap hal-hal yang tidak masuk akal. (Saat) pelaksanaan/ eksekusi (barulah) lakukan dengan rasional, dengan otak,”.

Langkah IV: Merencanakan Strategi Eksekusi.

Ini semacam merancang skenario “operasi tempur”. Perencanaan dan strategi sangatlah penting. Segala sesuatu yang telah disiapkan dengan rapi saja masih meninggalkan lubang, apalagi tanpa strategi.

Langkah V: Menyiapkan Skenario Pasca-Publikasi.

Menyiapkan skenario pasca publikasi harus menjadi bagian dari perencanaan. Segala kemungkinan perlu diinventarisir, tidak hanya agar resiko bisa diantisipasi, akan tetapi persepsi ancaman itu akan membuat kita lebih teliti dan akurat dalam menyusun laporan untuk publik.

Dalam menyiapkan scenario pasca pulikasi harus disusun potensi ancaman, daftar pihak yang langsung atau tidak langsung terimbas dan cara menghadapinya dan siapa saja pihak yang dapat memberi pertolongan.

  1. ACTION

Inti dari action atau eksekusi dalam liputan investigasi sebenarnya “hanya” ada 2 tahap:

  • Mencari bukti fisik
  • Mencari kesaksian yang mendukung bukti tersebut

Sedangkan, tindakan dalam melakukan liputan investigasi memiliki dua tahap, yaitu:

  • Tahap 1 : Mencari Bukti Fisik

Bagi wartawan media cetak, bukti fisik bisa berupa dokumen, foto, atau hasil observasi lapangan. Dokumen (kertas) atau arsip adalah material idola bagi semua wartawan investigasi media cetak. Tapi bagi wartawan televisi, bukti fisik identik dengan rekaman video atau footage, baik yang diperoleh dari pihak lain maupun hasil tangkapannya sendiri. Sementara bagi wartawan radio, bukti fisik yang diidam-idamkan adalah rekaman suara (audio).

Untuk mendapatkan bukti fisik dan kesaksian, dikembangkan berbagai metode investigasi.

Seperti melacak keberadaaan dokumen (paper trail), melacak orang (people trail) atau menelusuri aliran uang (money trail-follow the money).

Metode itu kemudian diturunkan dalam bentuk teknik investigasi, seperti penyamaran, observasi, pengintaian (surbeillance), penempelan (embedded) atau pembauran (immerse). Termasuk dalamnya teknik melakukan wawancara atau menggali informasi.

  • Tahap 2: Mencari dan Mengumpulkan kesaksian

Inti dari kerja investigasi adalah dua hal saja: tahap mencari bukti isik dan tahap mengumpulkan kesaksian, yang keduanya bisa dibolak-balik. Dalam mengumpulkan kesaksian, jurnalis bisa menggunakan metode people trail.

Secara empiric, jenis narasumber yang biasa ditemui dalam jurnalisme investigasi adalah sebagai berikut:

  1. Narasumber petunjuk, whistle blower, orang dalam, the insider.
  2. Narasumber utama (primer): pelaku, saksi mata.
  3. Narasumber pendukung (sekunder): informan, pemberi informasi latar belakang (backround info), sumber-sumber formal (resmi).
  4. Narasumber ahli (expert source): membantu informasi dan pemahaman teknis bidang tertentu dalam sebuah kasus.

Untuk mendukung alat bukti yang sudah diperoleh, maka pada tahap ini wartawan dapat menggunakan metode people trail dengan tujuan untuk mencari orang yang dapat membantu memecahkan masalah. Artinya wartawan dapat menggali informasi dengan menggunakan teknik wawancara 5W+1H baik secara  door stop (mencegat narasumber), sitting down interview (wawancara santai), atau smoking gun interview (wawancara tembak langsung). Narasumber yang biasa ditemui dalam liputan investigasi yaitu narasumber petunjuk, narasumber utama (primer), narasumber pendukung (sekunder), dan narasumber ahli (expert source).

Bila Gagal Menembus Narasumber

Bila mendapatkan narasumber yang tidak ingin dijumpai, namun jurnalis harus tetap berupaya maksimal, sampai titik tertentu menerima kondisi tersebut.

Publikasi Tanpa Konfirmasi?

Kegagalan menembus narasumber  bukan akhir segala, yang penting adalah publik mengetahui upaya yang sudah kita lakukan.

Sitting Down Interview

Tugas investigasi bukan memenjarakan atau menjebak seseorang. Tugas investigasi adalah memaparkan sebuah persoalan segamblang-gamblangnya, termasuk dari pihak yang kita duga melakukan kejahatan publik.

Sitting down interview atau wawancara “duduk tenang” adalah sebuah sesi yang digunakan wartawan untuk bisa menggali sedalam-dalamnya informasi dan keterangan versi seorang narasumber, meski dalam hipotesa atau bukti-bukti awal yang diperoleh, dia patut diduga bersalah.

  1. TEKNIK PELIPUTAN INVESTIGASI

Teknik peliputan yang dimaksud dalam bab ini adalah pekerjaan-pekerjaan verifikasi dalam jurnalistik. Dimana jurnalis turun ke lapangan untuk menguji hipotesanya, mencocokan data dengan realita, mencari dan menelusuri sesuatu (material trail), atau membuktikan sendiri sebuah eristiwa (baik pancaindera sendiri atau bantuan alat seperti kamera atau perekam).

Ragam Teknik Penyamaran

Jenis teknik penyamaran yang digunakan saat peliputan investigasi, yaitu:

  • Penyamaran melebur (immerse):Wartawan melakukan peliputan membaur atau melebur dengan objek yang akan diliputnya.
  • Penyamaran menempel (embedded): Wartawan melakukan peliputan menyamar sebagai bagian dari kelompok tertentu yang berinteraksi dengan target.
  • Penyamaran berjarak (surveillance):Wartawan menggunakan jarak dalam penyamarannya. Jarak yang dimaksud tidak hanya jarak yang bisa diukur melainkan juga berkaitan dengan jarak sosiologis maupun psikologis.
  • Observasi adalah bagian dari tahap verifikasi (tahap mencari bukti). Dalam observasi jurnalis harus menggunakan pancaindera untuk media cetak, atau rekaman video untuk media televisi atau audio untuk radio.
  • Mengecoh (Decoying). Teknik digunakan bila kita ingin mendapatkan akses suatu informasi yang berada dipihak tertentu, tapi mereka cenderung ragu atau menutupinya (karena satu dan alasan lain). Namun pihak tersebut sebenarnya tidak anti-media. Mereka akan terbuka terhadap informasi atau kases atas hal lain, tapi bukan jenis informasi atau akses yang kita mau. Disinilah teknik decoying bisa membantu.
  • Lempar Liputan, Sembunyi Tangan. Upaya untukkebocoran, sebab di ruang redaksi media terkadang tidak steril dari kaki tangan pihak luar. Entah itu TOR yang bocor dan jatuh ke tangan orang luar.Atau naskah yang belum dicetak, tapi sudah diketahui oleh pihak lain.
  • Wawancara Palsu ala Astro Awani. Itulah teknik peliputan yang dilakukan tim Astro Awani. Teknik yang bisa dikembangkan melalui improvisasi di lapangan oleh siapa saja, asal memiliki kemauan dan semangat berkerja demi kepentingan umum.(bersambung)



LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here