Beranda Berita Utama In Memorial: Albertus Yudi Pratama

In Memorial: Albertus Yudi Pratama

1167
0

 

(Meninggal Dunia Minggu, 18 April 2021 di Kabupaten Kaur)

Pria Baik, Wartawan Tangguh

Oleh


Muhammad Isnaini

ENTAH kenapa, aku ingin sekali menulis tentang sahabat, rekan kerja sekaligus guru dalam dunia kewartawanan ini. Memang benar, almarhum Albertus Yudi Pratama wartawan Harian Rakyat Bengkulu yang bertugas di wilayah Kabupaten Kaur ini adalah guruku dibidang wartawan. Memang bukan guru terbaik kalau untuk urusan menulis berita. Namun dalam hal kegigihan, kesungguhan, daya tahan, daya juang dan daya lidik (istilah terakhir itu memang ungkapan yang dibuat almarhum), dia adalah yang terbaik yang kutemui selama perjalanan menjadi wartawan hampir 10 tahun belakangan.

Tulisannya terkadang memang biasa saja, namun data berita yang disajikan sungguh terkadang bikin decak kagum. Lengkap, cermat, akurat serta terkonfirmasi. Tidak ada data abal-abal, atau dalam istilah dunia wartawan “data tembak dari atas kuda”. Maka berita yang disajikannya pun bisa dipertanggungjawabkan.

Pertama kali mengenal cik bitus- panggilan akrabnya di Kaur, setelah aku diterima sebagai calon wartawan (CW) di Surat Kabar harian Rakyat Bengkulu (RB) pada tahun 2010. Oleh redaktur pelaksana, Bang Patris Muwardi dan Pimred bang Zacky Anthony, aku ditempatkan sebagai wartawan kriminal. Dari sini berawal karierku dalam dunia kewartawanan.

Di pos wartawan kriminal saat itu sudah ada dua wartawan yang lebih senior, Albertus YP Cik dan Aris “sca” Delta dengan Redaktur halaman Borgol, Beni “Bro” Hidayat. Albertus bertugas di Pos Polda dan wilayah bagian selatan Kota Bengkulu, sedangkan Aris bertugas di wilayah Polres Bengkulu, Kejati Bengkulu dan wilayah bagian utara Kota Bengkulu. sementara aku, sebagai CW berada pada posisi mobile, sesuai instruksi dua orang senior itu.

Banyak kisah yang kami alami selama nge-pos di Polda Bengkulu. Pernah suatu waktu, saat itu Kapolsek Gading Cempaka adalah AKP Mada Ramadita. Kapolsek ini sangat akrab dengan para wartawan. Sampai-sampai, kalaupun beliau sedang tidak ada di kantor, wartawan boleh istirahat diruang kerjanya. Boleh mengambil air minum didalam kulkasnya. Sehingga wartawan cukup bebas di lingkungan Polsek yang tidak jauh dari simpang empat KM 8 itu.

Hingga pada suatu waktu, ada telepon masuk diruang piket yang tidak jauh dari ruang kapolsek. Suaranya nyaring sekali dan cukup lama tidak diangkat. Hingga akhirnya keluar nada putus. Tidak berapa lama, telpon itu berbunyi lagi. Kami melongok keluar, rupanya tidak ada anggota yang berjaga disitu. Kemudian cik bitus mendekati telpon itu.

“Ini pasti ade kejadian nay. Pasti jeme ndak melapor. Kaba kinak-kinai disitu kalu ade jeme, aku ndak ngangkat telepon itu. (ini pasti ada kejadian nay, pasti ada orang mau melapor. Kau lihat-lihat disitu kalo ada orang, aku akan angkat telpon itu),” katanya, mulai beraksi nakal.

Tak lama kemudian ku dengar, “ Selamat siang, Polsek Gading Cempaka, Ada yang bisa dibantu?,” ujarnya berlagak jadi polisi.

Aku mulai mendekat karena dari ujung terdengar suara pria dengan nada panik.

“Ya halo pak, saya mau melaporkan ada perampokan disini. Di BIM,” kata pria diujung telpon.

“Ya pak, tolong dijelaskan lebih rinci pak,” tambahnya. Dan kulihat cik bitus mulai menulis diatas buku notesnya. Tak lama kudengar ia memanggil.

“Nay, kaba cepat lah ke BIM, ade perampokan pecah kace mobil. Aku nunggu disini. Kelak aku ngajak rombongan Yusuf (wartawan RBTV) makan. (nay, kau cepat ke BIM. Ada kasus perampokan pecah kaca mobil. Aku nunggu sini, kelak aku ajak Yusuf makan),” serunya.

“Siap cik, sini pinjam kamera pocketnya,” kataku.

Dan kemudian berita esok paginya menjadi berita HL di Koran Rakyat Bengkulu. Kasus pecah kaca dengan kerugian uang lebih dari Rp 20 juta. Beritanya hanya kami yang dapat. Dan mendapat predikat EKSKLUSIF dari pimred. Karena tidak ada wartawan atau media lain yang mendapatkan berita itu.

Waktu itu, memang menjadi sebuah kebanggaan bagi wartawan kalau mendapatkan berita eksklusif. Sehingga usuran saling jebol dengan sesame wartawan adalah biasa. Dan itu menjadi sebuah keseruan atau kompetisi sendiri bagi wartawan untuk mendapatkan berita-berita menarik.

Pada kesempatan lain, juga ada kejadian yang mendebarkan sekaligus menegangkan yang kami alami. Suatu saat ditemukan sesosok mayat laki-laki tidak jauh dari Pasar Tradisional Modern (PTM) yang berdekatan dengan Mega Mall. Jenazah itu ditemukan dalam kondisi kaku disemak-semak, beralas kardus dan beratap karung-karung bekas.

Ternyata hasil penyelidikan kepolisian bahwa pria yang meninggal itu memiliki anak yang mempunyai rumah tidak jauh dari jazadnya ditemukan. Dan ada desas-desus bahwa semasa hidup, pria tua itu memang ditelantarkan. Itu menjadi berita yang bagus dimata kami wartawan kriminal. Berita kemudian ditulis, sebagian ditulis oleh cik bitus dan sebagian lagi ditulis oleh aku sendiri.

Namun saat mulai diedit, cik bitus lantas memanggilku yang lagi santai sejenak diatap Gedung Graha Pena itu.

“Nay, turun lagi kite. Disuruh bos. Ke badah anak jeme ninggal tadi. Minta konfirmasi, ngape engkan menelantarkan orang tuanye,” beber bertus yang seakan sudah menebak, aku akan menanyakan apa.

“Siap. Tapi motor sebuah saje cik,” jawabku singkat.

Kami lantas pergi berboncengan naik sepeda motor “sakti” miliknya, Supra Fit dengan striping warna merah. Kenapa disebut “sakti” nanti ada kisahnya.

Sampai dilokasi rumah anak orang tua yang meninggal itu. Kami lantas berjalan pelan. Kami memang selalu waspada kalau berurusan hal seperti ini. Sebab ada kemungkinan orang tida suka dengan kehadiran kami. Dan benar tebakan kami. Beruntung yang muncul duluan adalah Pak RT (aku lupa namanya). Aku memang banyak kenal Ketua RT waktu itu, karena ada kolom khusus di Koran RB yakni Forum RT yang saban minggu harus ku isi. Sehingga banyak Ketua RT yang ku kenal.

“Kawan-kawan wartawan, minta tolong jangan mendekat ke rumah. Karena tadi ku dengar anaknya udah ngamuk dan nyari-nyari wartawan. Tolong kembali saja,” kata Pak RT, meminta kami tidak mendekat demi keselamatan.

Dan benar saja, tidak lama setelah Pak RT itu ngomong, saat kami sedang ngobrol-ngobrol muncul anaknya. Berusaha mencapai kami dengan memegang sesuatu. Dan kupikir yang dipegangnya itu sejenis senjata tajam berukuran besar.

“Ayo pak RT kami permisi,” ujar kami tergesa-gesa, dan langsung lari kabur. Sedangkan pria itu sudah dipegangi oleh warga.

Soal motor “sakti” itu memang bukan bualan. Betul-betul sakti. Karena kupikir di Kota Bengkulu hanya motor miliknya yang bebas “berkeliaran” dalam posisi mati pajak bertahun-tahun. Suatu ketika, sepeda motornya itu ada kawannya yang Makai. Saat itu terkena razia. Dan sudah disampaikan oleh bahwa motor itu yang punya Bertus, wartawan RB. Tapi motornya tetap diangkut ke Mapolda Bengkulu.

Sementara bertus posisinya sedang ada di kantor RB. Akhirnya singkat cerita, setelah bertus menelpon Dirlantas saat itu. Motornya diantar ke kantor RB dengan menggunakan mobil PJR.

“Nay, walaupun kerje kite ni berat, apelagi bulan pause luk ini. Puase sajelah. Mase pule ndik tahan (Nay, walau kerja kita berat. Apalagi bulan puasa. Puasa sajalah. Masa ga tahan),” kata suatu waktu di bulan Ramadhan waktu itu. Pada masa itu, wartawan kriminal khususnya sangat jarang ditemui berpuasa ramadhan. Setahuku Cuma Bertus yang selalu konsisten berpuasa.

“Nay cepatlah belajar. Kalu kabah lah nguasai wilayah tugas sape tahu aku pacak pindah jak wartawan kriminal ini. tapi kurase kabah yang bakalan ditempatkan di wilayah Kaur amu lepas CW kele, karena aku lah ade dengar desas desusnye. (nay cepatlah belajar. Kalau kamu sudah menguasai wilayah tugas siapa tau aku bisa pindah tugas dari wartawan kriminal ini. Tapi kurasa, kau yang akan ditempatkan di wilayah Kaur setelah lepas dari calon wartawan ini. Aku sudah dengar desas desusnya),” kata bertus suatu waktu, sebelum aku memutuskan resign dari Koran RB waktu itu.

“Sayang nian kabah keluagh, amu pacak dipertimbangkan lagi. Rugi kalu kaba keluagh (Sayang nian kalau kamu keluar. Kalo bisa pertimbangkan lagi. Rugi kalo kau sampai keluar),” katanya saat aku cerita perihal rencanaku keluar dari Koran RB.

Dan akupun akhirnya memutuskan keluar. Setahun kami bersama di barisan wartawan Kriminal Koran RB. Setelah itu, aku jarang ketemu, karena aku sempat menjadi sales di Yamaha Thamrin Brother Cabang Salak. Dan ketemu pas Bertus menikah. Saat ngobrol diacara resepsinya. Dia justru menanyakan hal tak terduga.

“Ada dang Marsal (Marsal Abadi, mantan GM Radar Kaur)? Katanya.

“Belum, kenapa?,”

“Dia lagi nyari wartawan untuk Koran Radar Kaur. Kalo kau ada minat?. Nomor telponmu sudah ku kasih dengan dio,” katanya.

Dan tidak berapa lama, akhir tahun 2011 Bertus pindah tugas ke wilayah Kabupaten Kaur. Dan Koran Radar Kaur berdiri tepat awal Januari 2012. Aku sementara masih di Kota Bengkulu. Karena istriku, yang sedang hamil tua, dalam masa menyusun skripsi. Aku minta sama Bang Marsal, untuk kembali ke Kaur setelah istriku lulus skripsi. Dan diiyakan. Aku kembali ke Kaur, pada Maret 2012.

Sejak itulah, berbagai cerita kami alami selama menjadi wartawan di Kabupaten Kaur. Hingga beliau wafat, Minggu 18 April 2021.

Sahabatku, Pak Khairi. Kau orang baik. Selama hidupmu banyak kesan baik darimu. Aku hanya bisa mendoakan, semoga kau mendapatkan tempat terbaik disisi Allah SWT. Aamiin.

*Penulis adalah Pelaksana Tugas Pemimpin Redaksi Harian Radar Kaur. 




LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here