Beranda Sastra dan Budaya Hari Berduka Cinta (Cerpen)

Hari Berduka Cinta (Cerpen)

76
0

Oleh: Karta Raharja Ucu*
SEBUAH papan nama tergantung di pintu satu ruangan rumah sakit umum daerah Yogyakarta. Di sana tertulis nama dr. Zainab Azalia, SpKK.

Seorang pemuda berusia 28 tahun sembari menggandeng ibunya dengan sungkan mengetuk pintu ruangan itu. Sang dokter dari dalam ruangan mempersilakan masuk.

Abdul, nama pria tersebut. Ia masuk merangkul pundak ibunya yang bernama Sarah ke dalam ruangan dokter spesialis kulit. Sarah sudah sepekan menggaruk-garuk tangan dan area wajahnya, termasuk ketika datang ke ruangan Dokter Zainab. Saking keras menggaruk, kulit Sarah mengalami luka.
Dokter Zainab mempersilakan Abdul dan ibunya duduk. Dokter perempuan berkacamata bulat dan jilbab lebar itu memperhatikan gerak-gerik Sarah, yang terlihat lain dari orang biasa.

“Maaf, ini dengan Ibu Sarah?” Dokter Zainab melayangkan pertanyaan setelah sebelumnya melihat nama daftar pasien di buku catatannya. Namun Sarah, perempuan yang sore itu memakai gamis panjang dan jilbab biru tidak merespon. Ia sedang sibuk memerhatikan sekeliling ruangan.

“Kamu bohong, Dul. Katanya kamu mau bawa ibu umroh. Katanya kamu mau bawa ibu ke Mekkah, lihat Kakbah. Katanya kamu mau bawa ibu ziarah ke makam Rasulullah. Kenapa ibu dibawa ke sini,” teriak Sarah tiba-tiba. Tangan kanan dan kirinya memukul-mukul Abdul.

Kepala, lengan, paha, dada Abdul menjadi sasaran. Namun, dia hanya bisa diam sembari sesekali menghalau tangan ibunya yang hendak mengacak-acak meja dokter. Tiba-tiba lengan Abdul digigit ibunya. Abdul hanya bisa meringis menahan sakit. Ia sudah bertahun-tahun mendapatkan gigitan dari ibunya. Tubuhnya seolah menjadi kebal dan hatinya menjadi kian sabar.

“Ibu, ibu.. iya habis dari sini kita umroh ya,” kata Abdul sembari menahan sakit dan mengelus tangan ibunya. Ia rapikan kembali jilbab ibunya yang miring.

Ibunya sesaat diam. “Janji kamu ya. Jangan bohongi ibu lagi”. Kemudian Sarah tak lagi bicara.

Dokter Zainab mematung di tempat duduknya. Ia tak banyak komentar, tapi ada banyak pertanyaan yang siap tumpah ruah dilontarkan kepada Abdul.

Abdul bisa membaca wajah Dokter Zainab yang kebingungan melihat tingkah ibunya. “Maaf dokter. Jiwa ibu saya sedikit lain dengan orang kebanyakan.”

Dokter Zainab kikuk. Dia tak bisa menguasai keadaan melihat seorang laki-laki muda, dengan sangat sabar merawat ibunya.

“Maaf, Mas…”

“Abdul Dok, Abdullah Sutrisno. Panggil saja saya Dul.”

“Baik Mas Abdul. Maaf sebelumnya, kulit wajah ibu kenapa?” Dokter Zainab tak enak hati jika langsung bertanya tentang keadaan Sarah. Ia mencoba fokus bertanya tentang alasan Abdul membawa ibunya berobat ke dokter spesialis kulit.

Namun, justru Abdul yang menerangkan keadaan jiwa ibunya. “Beliau bukan tidak waras, dok, bukan ODGJ. Tapi kejiwaan beliau sedikit terganggu. Ibu cenderung ke arah pengidap skizofrenia. Jika sedang kambuh, ibu selalu berteriak, tapi ibu tidak menggangu orang lain. Hanya saya selama ini yang jadi sasaran kemarahan ibu.”

Dokter Zainab diam. Seakan mendapatkan lampu hijau, dia memberanikan diri bertanya. Kali ini bukan tentang ruam-ruam di wajah Sarah, tapi soal kejiwaannya. “Ibu sejak kapan begini, Mas?”

“Kejiwaan ibu terganggu saat jatuh dari motor ketika pulang sekolah madrasah, Dok. Kepalanya terbentur hebat. Beruntung nyawa ibu selamat, tapi kejiwaan ibu sempat sekarat.”
Sang ibu masih anteng di tempat duduknya. Sesekali, perempuan berkulit putih, berhidung bangir, bermata kecil yang dilengkapi alis tebal itu memutarkan kepalanya melihat isi ruangan. Wajahnya masih terlihat cantik untuk ukuran perempuan berusia 51 tahun. Keriput memang mulai tampak, tapi waktu seolah tak bisa merenggut kecantikannya.

Dokter Zainab sesekali melihat wajah Abdul. Ada raut lelah di sana. Tapi tak tampak raut pemberontakan di wajah laki-laki yang sore itu memakai kaus berlambang sebuah warung makan gudeg legendaris yang hanya ada satu-satunya di Yogyakarta tersebut. Penampilan Abdul sederhana. Penampilannya sehari-hari.

Dokter Zainab hati-hati memeriksa Sarah, sembari sesekali bertanya kepada Abdul sejak kapan ibunya mengalami gatal-gatal. Dokter Zainab lalu melihat ruam-ruam merah di wajah dan tangannya, hingga menyimpulkan jika Sarah terkena alergi. Kembali ke kursinya kemudian menuliskan resep obat.

Sebelum kertas resep berpindah tangan, pertanyaan kembali meluncur dari bibir tipis Dokter Zainab. Ia sangat berhati-hati berbicara. “Maaf Mas Abdul, semoga pertanyaan saya tidak dianggap lancang. Kalau keadaan ibu seperti ini, mohon maaf, apakah ibu Anda sebelumnya pernah menikah?”

Dokter Zainab langsung memindahkan pandangannya ke wajah Sarah saat Abdul tersenyum mendengar pertanyaannya. Senyum tulus laki-laki yang cinta kepada ibunya. Dokter Zainab tak enak hati. Ia juga malu. Dokter Zainab kini berdistraksi dengan wajah ibu Sarah.

“Ibu saya sempat menikah, Dok. Almarhum kakek saya menikahkan beliau ketika berusia 23 tahun. Setahun menikah, saya lahir, setelah itu ayah saya wafat karena kecelakaan.”

“Saya lalu dibesarkan mbah, sampai beliau mangkat saat usia saya 25 tahun. Tiga tahun lalu. Eyang putri saya sudah lebih dulu meninggal saat saya kuliah. Setelah itu, saya seorang diri mengurus ibu, karena beliau anak tunggal.”

Dokter Zainab tak tahu lagi apa yang harus ia bicarakan. Pikirannya berkelana ke rumah orang tuanya di Jakarta. Ingatannya meloncat ke wajah almarhum bundanya yang sangat mencintai ia dan ayahnya. Ibunda Dokter Zainab meninggal saat ia baru menyelesaikan studi di Fakultas Kedokteran Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta. Dokter Zainab rindu bunda dan ayahnya.

Seumur hidupnya yang tahun ini menginjak tiga dekade, Dokter Zainab baru melihat secara nyata penghormatan anak kepada orang tuanya. Kesabaran dan cinta anak kepada ibunya. Entah sudah berapa banyak kajian ilmu yang sudah Dokter Zainab datangi. Entah sudah berapa banyak ceramah tentang birrul walidain yang Dokter Zainab dengarkan. Namun, baru kali ini Dokter Zainab melihat secara langsung contoh anak berbakti kepada orang tua.

Otak Dokter Zainab berupaya sekuat tenaga memerintahkan matanya untuk tidak berair. Namun, usahanya gagal. Entah Abdul melihat air matanya atau tidak.

“Mas Abdul,” kata Dokter Zainab menyerahkan secarik kertas berisi resep obat, “Ibu Mas Abdul terkena alergi. Kemungkinan besar dari makanan atau udara dingin. Ini saya berikan resep obat untuk ditebus kemudian ibu minum. Saya juga sertakan salep untuk dioleskan ke kulit ibu.”

Abdul menerima kertas resep dan berterima kasih. Laki-laki yang janggutnya disesaki rambut tersebut hendak pamit.

“Saya yang berterima kasih kepada Mas Abdul, karena sudah memberikan pelajaran sangat berharga tentang berbakti kepada orang tua.”
Abdul merangkul ibunya dan bilang kalau sudah waktunya pulang. Ibunya digandeng hendak dibawa ke luar ruangan. Dokter Sarah berdiri dari tempat duduknya dan mengantarkan pasiennya ke luar ruangan.

“Maaf Mas Abdul,” kata Dokter Sarah menghentikan langkah Abdul, “Apa Mas Abdul bekerja di Warung Gudeg Mbah Trisno?”

“Eh, iya Dok,” ujar Abdul sembari memegang lambang rumah makan gudeg legendaris di atas kausnya. Abdul lalu benar-benar pamit dan keluar dari ruangan sembari mengucapkan salam.

Dokter Zainab kini sendiri di ruangannya. Ia kembali duduk di kursinya. Di atas meja kerjanya ada sebuah foto berbingkai kayu. Gambar Dokter Zainab, ayah, dan bundanya saat berwisata ke Candi Prambanan terabadikan di sana.

Melihat Abdul, Dokter Zainab terkenang jawaban bundanya saat ditanya mengapa mau menikah dengan ayahnya. “Ayahmu,” jawab ibunda Dokter Zainab, “sangat mencintai ibunya, nenekmu. Ayahmu sangat berbakti kepada nenekmu. Ayahmu, sangat lembut kepada nenekmu. Dari semua kebaikan hatinya, apa ada alasan lagi untuk tidak mencintai ayahmu? Dari sana bunda jatuh hati. Di mata bunda, ayahmu adalah permata.”

“Ndok, nanti, jika kamu ingin menikah, jangan asal menikah. Jangan karena takut dibilang telat menikah, kamu menikah dengan laki-laki yang kasar terhadap perempuan. Menikahlah dengan laki-laki yang rasa cinta kepada ibunya, jauh lebih besar daripada rasa cinta kepada dirinya sendiri. Laki-laki seperti itu insha Allah akan sangat mencintai istri dan anak perempuannya.”

Suara kontralto milik ibunya seolah berputar-putar di telinganya. Senja itu, petang itu Dokter Zainab berduka cinta. Berduka mengenang ibunya, jatuh cinta melihat putra dan pasiennya.
Gadis yang menyelesaikan studi dengan IPK 3,85 alias magna cum laude itu, merengkuh ponselnya, membuka WA lalu mengirimkan pesan kepada ayahnya, yang tadi pagi ketika berbincang lewat telepon bilang bahwasanya ia bermimpi sedang menggendong cucu. Kode keras untuk putri semata wayang yang belum naik pelaminan.

“Yah, sepertinya Zainab menemukan permata seperti yang ibu pernah dapatkan”. Pesan terkirim. Centang dua abu-abu.

Layar ponselnya kini berpindah ke mesin pencarian. Ujung bibir Dokter Zainab tertarik pipi tembemnya. Ibu jarinya mengetik sebuah alamat: “Warung Gudeg Mbah Trisno”.
KARTA RAHARJA UCU, saat ini bekerja sebagai wartawan.

 




LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here