Beranda Hikmah Ramadhan Hadiah Penuh Berkah di Bulan Ramadhan

Hadiah Penuh Berkah di Bulan Ramadhan

80
0

SAYA membaca selarik pesan yang ditulis di atas kertas kecil itu penuh haru. Ada ketulusan yang hangatnya terasa sampai di hati.

Pesan itu dikirimkan bersama satu kotak kue kahk. Ini kue tradisional khas Mesir yang biasanya muncul di momen Ramadhan. Bentuknya mirip kue kering putri salju kalau di Indonesia, namun rasanya sedikit lebih berempah.

Di market place, kue kering ini juga ada yang menjual. Namun, rasanya tentu tak sama dengan yang dikirim langsung dari Mesir. Karena ada perhatian yang terselip di dalam sekotak kue itu.

Tak hanya kue kahk. Yang membuat saya terpekik senang adalah kiriman fanus atau lentera khas Ramadhan yang selalu menghiasi jalanan di kota Kairo.

Sewaktu melakukan perjalan  ke Mesir beberapa tahun lalu, saya sempat mencari fanus ini di Khan el-Khalili, pasar tradisional terbesar di dekat Masjid Al Azhar. Namun karena bukan bulan Ramadhan, tak ada yang menjualnya.

Dan hari ini, benda cantik itu sudah bertengger di atas meja kerja saya. Bolak-balik saya memandangi dan memegangnya, saking senangnya. Seperti anak kecil yang dibelikan lego pertamanya.

Secara psikologis, saling memberi hadiah yang dilakukan dengan ikhlas akan membuat pemberi maupun penerima merasa bahagia. Apa pasal? Karena stimulus itu akan memancing produksi hormon endorfin dari dalam tubuh.

Hormon endorfin juga dikenal sebagai hormon cinta, yakni munculnya perasaan bahagia dan nyaman yang biasanya dirasakan orang yang sedang jatuh cinta. Secara medis, hormon endorfin akan mengurangi persepsi rasa sakit, bertindak sebagai penenang, menghilangkan stres, dan meningkatkan imunitas tubuh.

Pembuaktian ilmiah ini sejatinya hanyalah penegasan dari sebuah hadist, “Salinglah memberi hadiah, maka kalian akan saling mencintai.” [HR. Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrod, no. 594].

Memberi dan menerima hadiah juga dicontohkan oleh rasulullah SAW, seperti yang disebutkan oleh Ibunda Aisyah, “Rasulullah SAW biasa menerima hadiah dan biasa pula membalasnya.” [HR. Bukhari, no. 2585].

Kebiasaan baik ini dicontoh oleh para sahabat dan ulama terdahulu. Tersebutlah nama Abdullah ibn Mubarak. Seorang ulama, ahli hadist, mujahid, saudagar kaya raya yang memiliki sederet keistimewaan.

Begitu istimewanya, hingga ia memiliki banyak gelar, di antaranya al-saffar, orang yang sering melakukan perjalanan, karena seringnya menunaikan ibadah haji. Al-Hafizh, Syaikh al-Islam, Fakhr al-Mujahidin dan pemimpin para ahli zuhud.

Suatu kali ia bersama penduduk kampungnya melakukan perjalanan haji. Penduduk kampung menitipkan uang bekal hajinya pada Abdullah ibn Mubarak, karena ia adalah ketua rombongan sekaligus orang yang amanah.

Usai melaksanakan ibadah haji, Ibn Mubarak meminta penduduk untuk berbelanja oleh-oleh. “Tapi bekal kami tidak cukup,” jawab mereka. “Haji ini perjalanan berkah, uang yang kalian titipkan padaku masih cukup untuk membeli oleh-oleh,” katanya.

Maka penduduk kampung pun membeli bermacam buah tangan untuk keluarganya. Bukan main senangnya mereka. Kejadian itu berulang saat singgah berziarah di Madinah.

Sesampainya di kampung halaman, Ibn Mubarak lalu memanggil rombongan haji itu satu per satu dan mengembalikan kantung uang bekal yang dititipkan padanya. Rupanya, ia menanggung seluruh ongkos perjalanan haji dan memberikan hadiah untuk keluarga mereka.

Kedermawanan Abdullah ibn Mubarak harusnya menginspirasi. Di bulan penuh berkah ini, mari berikan hadiah untuk kerabat dan sahabat.

Belanjakan dari sesama Muslim sehingga ekonomi ummat bergerak. Tak hanya pemberi dan penerima hadiah yang akan bahagia, namun juga para pedagangnya.
Allahu akbar! (**)




LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here