Beranda Berita Utama Ciputra Grup Sementara Batalkan PHK 40 Karyawan

Ciputra Grup Sementara Batalkan PHK 40 Karyawan

658
0
HERY/RKa
TEMUI: Kades daerah Hulu Tetap menyambangi kantor PT. CBS di Desa Padang Hangat Kecamatan Kaur Tengah untuk mempertanyakan nasib kelima warga desa yang mengalami PHK, Selasa (21/6).

RKa ONLINE, KAUR TENGAH – Sebanyak 40 karyawan PT Ciptamas Bumi Selaras (CBS) dan PT. Citra Sawit Hijau Subur (CHS) mendatangi kantor perusahaan perkebunan Ciputra Grup di Desa Padang Hangat Kecamatan Kaur Tengah. Mereka mempertanyakan dan memperjuangkan status mereka sebagai karyawan. Lantaran surat pemanggilan terkait rasionalisasi karyawan dinilai telah menyalahi kesepakatan saat pendirian perusahaan itu. Hingga Senin sore (21/6), untuk meredam situasi yang mulai menghangat, manajemen PT CBS dan PT CHS membatalkan rencana Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) sampai waktu yang tidak dapat dipastikan.

Bahkan diantara para karyawan itu, turut pula hadir 4 kepala desa di hulu tetap yang turut memperjuangkan nasib 5 warga yang menjadi karyawan di perusahaan itu. 5 warga itu diantara 15 karyawan PT CBS terancam diberhentikan, sementara perusahaan beroperasi di wilayah 4 desa hulu tetap Kecamatan Tetap. Sesuai kecepatan awal pendirian, perusahaan harus mempekerjakan tenaga lokal desa.

“Warga kami terus digeser oleh orang dari daerah lain. Belum lama ini ada 5 warga kami yang diberhentikan. Karenanya kami disini untuk meminta tolong, agar nasib warga kami ini diperjuangkan dan PHK nya dibatalkan. Kalau memang tak mendapat tanggapan maka dalam waktu dekat kami akan melakukan demonstrasi damai. Selama proses ini, jalan menuju sentra kebun akan kami tutup. Karena kesepakatan dulu pada saat membuka lahan perkebunan di desa kami adalah dengan mempekerjakan tenaga lokal desa,” ungkap Plh Kades Babat, Ibra Sastra Pratama kepada Radar Kaur.

Ia juga mengatakan, bila selama ini perusahaan tersebut tak memberikan kontribusi bagi warga di wilayah tersebut. Padahal, beberapa tahun lalu, warga desa telah merelakan tanah miliknya digunakan sebagai lokasi perkebunan. Belum lagi dampak sosial seperti bencana alam berupa banjir semakin sering terjadi. Janji diawal saat sosialisasi sebelum membuka perkebunan dulu bahwa perusahaan perkebunan akan menjaga Daerah Aliran Sungai (DAS) agar tidak banjir.

“Kontribusi mereka untuk kami minim. Padahal dampak yang disebabkan sejak berdirinya perusahaan sangat kami rasakan. Contohnya saja banjir, semenjak berdirinya perkebunan, dalam setahun bisa terjadi sampai tujuh kejadian,” ujar Ibra.

Tebang Pilih




LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here