Beranda Sastra dan Budaya Celurit Api

Celurit Api

65
0

Oleh : Edy Firmansyah
MALAM gelap dan udara dingin tak menyurutkan Ladrak untuk terus menaiki Bukit Pandan malam itu. Ia mendaki dengan kelincahan seekor kettang alasmenaiki pepohonan. Malam itu angin mati.
Pepohonan menunduk lesu setelah seharian dicambuk lidah matahari. Tapi, Ladrak terus mendaki, menghindari kejaran kompeni. Dengan segenap tenaga yang ia miliki.
Dalam pelariannya, setiap kali ia mengingat peristiwa pembantaian itu, napasnya makin menderu. Dadanya sesak seperti tertimpa puluhan batu.
Betapa tidak, ia memimpin ribuan orang. Termasuk anak-anak dan para perempuan yang menolak Belanda datang lagi di tanah kelahirannya, Pamekasan. Mereka tak sudi berada di bawah sepatu lars kompeni.
Ribuan orang itu memadati alun-alun kokta dengan senjata tajam dan telur di tangan, berdemonstrasi agar Belanda pergi, sambil mengumandangkan takbir. Tapi para marinir Belanda yang berjaga di sekitar Masjid Syuhada bergeming. Mereka bersiaga dengan senapan terkokang. Massa kemu dian merangsek maju untuk memasuki masjid.
Saat itulah tiba-tiba terdengar suara rentetan senapan dari arah utara masjid, kemungkinan besar dari tembakan bar, disusul rentetan senapan lainnya dari berbagai arah. Kegaduhan tak terhindarkan, juga teriakan.
Teriakan orang-orang di ambang maut. Ladrak menyaksikan gelombang besar massa yang rata-rata bersarung bergelimpangan seperti daun kering yang jatuh dari rantingnya. Beberapa lainnya yang terluka dan tidak terluka, termasuk Ladrak, memasuki leke yang terbuka, merangkak menyelamatkan diri.
Sekitar 600 orang, Meertje, 600 orang, laki-laki dan perempuan terkapar bersimbah darah, ujar Ladrak kepada kekasihnya yang peranakan Belanda sambil menggebrak meja. Setelah berhasil meloloskan diri dari maut, Ladrak bergegas menuju rumah Meertje untuk persembunyian sementara.
“Sabar, Ladrak, Sabar!”
“Aku tak bisa bersabar melihat kebiadaban,” ujar Ladrak. Kali ini ia menyambar kendi di sisi meja dan menenggaknya.
Mendadak terdengar ketukan pintu depan rumah Meertje.

“Siapa?” Meertje berteriak dari ruang tengah. Sementara Ladrak bergegas melompat dari kursi menempel ke dinding di samping jendela, bersiap kabur jika tamu di luar ternyata marinir Belanda.
“Carang!”
Meertje bergegas membukakan pintu.
Ladrak kembali ke tempat duduknya se mula. Carang adalah teman seperjuangan Ladrak. Ia juga merupakan telik sandi laskar.
“Ada apa?” ujar Ladrak kepada Carang saat ia berdiri di hadapannya.
“Kak Ladrak harus segera melarikan diri dari rumah ini. Marinir Belanda mulai mendatangi rumah-rumah penduduk dan menangkapi orang-orang. Kak Ladrak sekarang buronan,” kata Carang. Nada suaranya pelan.
“Baiklah!” Ladrak berdiri dari tempat duduknya semula. Mencium kening Meertje yang masih tertegun di muka pintu.
“Ke mana?” tanya Meertje dengan nada cemas.
“Ke tempat aman. Percayalah, aku akan kembali.”
Ladrak dan Carang keluar dari rumah Meertje. Keduanya berpisah di pengkolan jalan.
Dalam pelarian itu, saat memasuki pasar, Ladrak bertemu dengan seorang oghem dan meramalkan kemenangan melawan Belanda dengan syarat menggali kuburan Ki Semoko. Konon siapa pun yang memegang celurit api Ki Semoko dipercaya kebal senapan dan ilmu kanuragannya meningkat sepuluh kali lipat.
Ki Semoko adalah pendekar terkenal di kampung Ladrak. Kebal peluru. Namun, ia mati diracun karena menolak pembangunan rel kereta api oleh muridnya sendiri yang jadi antek Belanda.

Hanya dengan celurit Ki Semoko kau bisa mengalahkan kompeni-kompeni itu. Kata-kata seorang oghem itu terus terngiang-ngiang dalam kepalanya. Kata-kata itu pula yang membulatkan tekadnya menuju Bukit Pan dan tempat kuburan Ki Semoko berada dan berniat mengambil celurit api yang ikut dikubur bersama jasad pendekar itu untuk membalas dendam.
Ia mendaki dengan kelincahan seekor kera. Malam itu angin mati. Pepohononan menunduk lesu setelah se harian dicambuk lidah matahari. Ladrak terus mendaki menuju kuburan Ki Semoko di atas bukit.
Sisa ketegangan masih melekat di wajah Kapten Kim Bornman seusai pertempuran dua jam di depan Masjid Syuhada itu, ketika ia memasuki banteng yang terletak di utara masjid. Sesekali aroma telur busuk yang menempel di seragamnya tercium, bergantian dengan sisa bau mesiu dan bau daging terbakar.
Ia baru saja selesai melihat penguburan mayat-mayat para pejuang yang tewas diberondong senapan. Ia memerintahkan anak buahnya menggali lubang besar di depan masjid dengan buldoser dan menguburkan mayat-mayat di lubang itu.
Sebelum dikubur, mayat-mayat itu dibakar. Kim Bornman merasa lelah. Pikirannya kalut.
Seandainya bukan perintah Jenderal Spoor, ia barangkali telah berada di Nederland, bertemu anak dan istrinya yang telah lama ia tinggalkan. Dan tak perlu menyaksikan kengerian itu.
Sejatinya ia telah tiba di Batavia dan bersiap berangkat dengan kapal laut menuju Nederland, ketika sebuah surat kawat rahasia datang. Tertanggal 4 Agustus 1947.
Isinya; memerintahkan puluhan peleton untuk mendarat kembali di Madura dan melakukan pengamanan dan penyelamatan terhadap industri garam secepat mungkin sebelum dikuasai para pejuang. Dan pasukannya termasuk salah satu peleton yang harus berangkat melaksana kan perintah itu.
Ia sebenarnya ragu berangkat. Sebab kembali ke daerah jajahan berarti melanggar perjanjian Renville. Namun, Jenderal Spoor meneleponnya langsung.
Produksi garam di Madura adalah yang terbesar di negara itu. Selain itu, Belanda perlu membentuk negara bagian Madura. Maka, berangkat kau sekarang.
“Atau kau tak kupastikan tak pernah kembali ke Nederland,” ujar Jenderal Spoor sembari menutup telepon.
Dan berangkatlah Bornman. Ia dan pasukannya tiba di Pamekasan pada 10 Agustus 1947. Enam hari sebelum peristiwa yang membuat ia terpaksa memerintahkan penguburan massal mayat-mayat yang mati ditembaki pasukannya dan seragamnya penuh cairan telur dan berbau amis.
“Mereka pikir bisa mengalahkan tank Belanda dengan telur,” umpatnya sembari membuka kancing-kancing seragamnya.
Belum selesai ia melepas semua kancing, Letnan Varaney masuk. Sebelum membuka pembicaraan ia memberi hormat.
“Ladrak belum juga ditemukan, Kapten,” ujar Varaney dengan nada cemas. Ia khawatir pemimpinnya marah.
“Kudengar dia sudah mati ditembak. Di Palengnga’an,” ujar Bornman. Ia melempar seragamnya ke kursi.
“Bukan, Kapten. Yang tertembak itu Carang. Wajah keduanya memang mirip.”
“Godverdomme. Kalau begitu sisir semua perumahan penduduk. Kerahkan semua pasukan. Tangkap semua orang- orang dekatnya. Kalau perlu perintahkan para cakrah supaya mencambuk mereka agar mengaku. Paling lambat 2 x 24 jam Ladrak harus sudah berada di depanku. Hidup atau mati. Kalau tidak, kau yang kutembak Varaney!”
“Siap, Kapten, laksanakan!” Varaney memberi hormat kembali. Kemudian berlalu.
Kapten Kim Bornman menghempaskan tubuhnya ke kursi. Rambut pirangnya sesekali bergerak disapu angin yang menerobos melalui jendela benteng.
Penyisiran demi penyisiran terus dilakukan untuk menangkap Ladrak dipimpin langsung Letnan Varaney. Mereka tak hanya memasuki rumah-rumah penduduk, tapi juga merazia pesantren.
Ladrak kini telah tiba di area hutan jati. Puluhan kunang-kunang beterbangan menemani langkahnya sambil mengerlipkan cahaya kuning kehijauan dari perutnya. Di tengah hutan ia melihat gundungan tanah dengan batu nisan yang disarungi kain putih bertuliskan huruf Arab.
Di sekitar kuburan itu ditumbuhi pandan. Kuburan itulah yang ia cari. Kuburan Ki Semoko.
Dengan tangannya, Ladrak kemudian mulai menggali. Keringatnya bercucuran. Jari tangannya terasa perih, tapi ia mengabaikannya. Keinginannya mengalahkan para marinir Belanda terlalu kuat untuk di kalahkan oleh rasa perih dan cucuran keringat.
Akhirnya, ia menemukan seonggok tulang-belulang yang masih dibalut kain kafan. Ia kemudian menyingkap kain kafan itu dan tampaklah sebuah celurit yang perlahan-lahan membara merah seperti bara api.
Ketika ia membungkuk hendak mengambil pusaka keramat itu, mendadak cahaya lampu sorot menyinari tempatnya berdiri. Ia melongok ke arah cahaya dan tampak sebuah tank berdiri. Cahaya lampu sorot lain menyala dari belakangnya. Ia melihat sebuah tank lain. Dan tank-tank itu bertambah banyak seolah-olah mengepungnya.
“Menyerahlah, Ladrak!” suara Letnan Varaney terdengar dari pengeras suara dari sebuah tank.
“Belanda sialan. Tak ada kata menyerah. Merdeka atau mati! Allahu Akbar!” Ladrak balas berteriak.
Ia kemudian menyambar celurit api. Lantas mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya untuk menerjang tank tempat Letnan Varaney berdiri. Tapi belum juga kaki Ladrak melayang di udara, tank-tank itu sudah menghujaninya dengan meriam. Terdengar suara ledakan. Berkali-kali.
“Mampus kau pemberontak,” teriak Letnan Varaney disambut tepuk tangan riuh anak buahnya. Asap mengepul dari liang kubur.
Dalam penyisiran di lokasi ledakan, baik mayat Ladrak maupun celurit api Ki Semoko tak pernah ditemukan. Sedangkan Letnan Varaney mendapatkan penghargaan. Wajahnya ada di koran-koran.
Sementara itu, seminggu seusai kabar kematian Ladrak menyebar, di lokasi yang sama, mendadak sebuah tangan menyembul dari tanah bekas ledakan. Tangan itu menggenggam celurit yang memancarkan nyala api. Tepat saat malam meleleh ke dalam tulang, di bawah redup cahaya bulan, sebuah kepala menyembul; tampak wajah Ki Semoko menyeringai.

Keterangan:
Kettang alas: monyet hutan
Oghem: seni meramal masa depan
Bar: Browning automatic rifle, mesin perang buatan Amerika. Varian senapan mesin yang banyak dipakai berbagai negara pada abad 20.
Leke: got, selokan.
Cakrah: orang-orang Madura yang bekerja untuk tentara Belanda.

TENTANG PENULIS: Edy Firmansyah, lahir di Pamekasan, Madura, menjadi pemimpin umum Komunitas Gemar Baca (KGB) Manifesco, Pamekasan. Kumpulan cerpennya yang pernah terbit adalah Selaput Dara Lastri (IBC, Oktober 2010). Buku puisinya yang telah terbit adalah Ciuman Pertama (Gardu, 2012) dan Derap Sepatu Hujan (IBC, 2011). Pernah menjadi jurnalis Jawa Pos. (*)




LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here