Beranda Hikmah Ramadhan Berburu Lailatul Qadar di Tanah Suci

Berburu Lailatul Qadar di Tanah Suci

74
0

RAMADHAN 1442 Hijriyah mendekati garis finis. Sepuluh hari terakhir bulan suci pun menjadi momen yang istimewa. Sebab, di dalamnya terdapat Lailatul Qadar, satu malam yang derajatnya lebih baik daripada seribu bulan.
Nabi Muhammad SAW bersabda, “Carilah malam Lailatul Qadar di (malam ganjil) pada 10 hari terakhir bulan Ramadhan” (HR Bukhari-Muslim).
Umumnya, umat Islam menanti Lailatul Qadar di masjid. Mereka beriktikaf sehingga dapat lebih fokus dalam beribadah. Iktikaf dianjurkan pada setiap waktu, tetapi lebih ditekankan pada saat memasuki 10 malam terakhir Ramadhan. Hal itu sesuai hadis riwayat Abdullah bin Umar, Rasulullah SAW beriktikaf pada 10 hari terakhir bulan Ramadan (muttafaq ‘alaih).
Karena keistimewaan dan keutamaannya, Tanah Suci menjadi tempat pilihan bagi kaum Muslimin untuk beriktikaf. Jamaah yang sudah berada di sana dapat melaksanakan shalat tarawih pada 10 malam terakhir bulan suci Ramadhan di Masjidil Haram, Makkah al-Mukarramah.
Biasanya, lautan manusia berkumpul di masjid terbesar sedunia itu pada momen tersebut. Akan tetapi, pandemi Covid-19 memaksa otoritas setempat untuk memberlakukan beberapa pengetatan.

Pemerintah Arab Saudi menetapkan, orang-orang yang beribadah di Masjidil Haram harus mematuhi protokol standar pencegahan virus korona. Mereka pun mesti terdaftar melalui aplikasi Tawakkalna dan berstatus sudah kebal Covid-19.
Kekebalan itu berarti yang bersangkutan telah menerima dua dosis vaksin, menjalani karantina 14 hari usai disuntik vaksin pertama, dan dinyatakan pulih secara medis dari infeksi. Peraturan yang sama juga berlaku di Masjid Nabawi, Madinah al-Munawwarah selama Ramadhan.
Pada bulan suci tahun ini, Saudi meningkatkan kapasitas orang yang boleh memasuki Masjidil Haram, yakni sebanyak 50 ribu jamaah umrah dan 100 ribu jamaah shalat per hari. Mereka diharuskan melaksanakan protokol kesehatan, seperti memakai masker dan menjaga jarak.

Berbagai perlengkapan untuk memonitor para pengunjung setempat pun telah dipasang, termasuk sekira 300 kamera pemindai suhu tubuh. Kamera itu bisa secara akurat mengukur suhu tubuh 25 orang dalam waktu yang bersamaan.
Pihak pengelola Masjidil Haram telah merekrut lebih dari empat ribu orang petugas untuk berjaga di tiap gerbang. Mereka mengarahkan jamaah untuk selalu mengikuti aturan kesehatan. Selain itu, ada pula yang membagikan air zamzam dalam kemasan botol sekali pakai.
Tentunya, aspek kebersihan masjid yang menjadi rumah Ka’bah itu terus ditingkatkan. Melansir Arab News baru-baru ini, pemerintah Arab Saudi tiap hari di bulan Ramadhan menghabiskan lebih dari 70 ribu liter cairan disinfektan untuk menjaga Masjidil Haram agar selalu higienis. Jumlah itu belum termasuk 1.500 liter cairan parfum yang telah tersterilkan untuk mewangikan ruangan-ruangan di sana setiap hari.

Dengan pelayanan demikian, Kerajaan dapat menghadirkan kenyamanan kepada jamaah yang hendak beriktikaf di Masjidil Haram dalam 10 hari terakhir Ramadhan tahun ini. Saudi Press Agency (SPA) melaporkan, jamaah dengan penuh khusyuk mendirikan shalat tarawih di sana.
Kedamaian yang mereka rasakan juga didukung rasa aman. Sebab, baik di sebelah kanan, kiri, depan, maupun belakang tiap jamaah, hanya ada orang yang dipastikan telah kebal Covid-19. Tambahan pula, kebijakan jaga jarak terus diterapkan sepanjang ibadah.
Dalam 10 hari pertama Ramadhan 1442 H, Masjidil Haram dikunjungi sebanyak 1,5 juta jamaah. Jumlah tersebut meningkat cukup pesat pada momen 10 hari terakhir bulan suci ini. Para pengunjung yang diwawancarai SPA mengaku senang dengan pelayanan yang disediakan otoritas Saudi di sana. Mereka merasa terlindungi selama menjalankan pelbagai ibadah, termasuk dalam rangka mengejar kemuliaan Lailatul Qadar.

Selama wawancara dengan Saudi Press Agency (SPA), mereka menekankan bahwa layanan yang disediakan pemerintah Saudi sudah maksimal dalam menjamin kenyamanan dan keamanan jamaah. Penguasa Saudi mengeklaim dirinya sebagai pelayan Dua Masjid Suci—Masjidil Haram dan Masjid Nabawi. Di tengah situasi pandemi Covid-19 yang belum berakhir, otoritas setempat pun berupaya menyediakan lingkungan yang aman dari virus korona baru, penyebab Covid-19.
Sejumlah jamaah juga memuji pembangunan di Masjidil Haram melalui lompatan kualitatif dalam sistem layanan dan mega proyek. Mereka merasakan perubahan komprehensif di semua tingkatan, seperti kemudahan akses ke air zamzam, sistem transportasi, serta pendingin udara. Bagian mataf pun dibuat lebih kondusif untuk jamaah beribadah walaupun dunia belum tuntas dari bahaya Covid-19.

Karena itu, mereka menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada Penjaga Dua Masjid Suci, Raja Salman bin Abdulaziz al-Saud dan Putra Mahkota Muhammad bin Salman. Keduanya dinilai berhasil menyediakan layanan dan proyek untuk melayani Masjidil Haram dan Masjid Nabawi.
Sebelumnya, otoritas Saudi telah menetapkan, rentang usia yang dibolehkan untuk berumrah, yakni antara 18 hingga 70 tahun. Orang tua dilarang membawa anak-anak mereka untuk melaksanakan ibadah di Masjidil Haram selama Ramadhan. Ada denda sebesar SR 10 ribu atau Rp 39 juta bagi siapapun yang memasuki masjid tersebut tanpa izin atau melanggar ketentuan yang berlaku.
Sejak Februari hingga kini, otoritas setempat melarang para penumpang dari 20 negara untuk memasuki wilayah Arab Saudi. Indonesia termasuk dalam negara yang demikian. Perkecualian adalah bagi mereka yang memegang paspor diplomatik, tenaga kesehatan, bantuan kemanusiaan dan keluarganya. Terkait itu, pemerintah Indonesia terus melakukan lobi-lobi agar jamaah Indonesia diperbolehkan untuk mendarat di Saudi, terutama menjelang musim haji tahun ini.(**)




LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here