Beranda Berita Utama Yang Ter Batu Menangis

Batu Menangis

78
0

APA jadinya kalau kamu melihat batu bisa menangis? Tentu kamu akan terheran-heran bukan?

Namun, salah satu tempat wisata di Jepang menyuguhkan sebuah pemandangan tepi pantai yang tidak biasa karena memiliki titik-titik bercahaya biru pada malam hari. Titik-titik tersebut seolah-olah menangis dengan cahaya biru.

Hal menarik itu yang membuat fotografer Trevor Williams dan Jonathan Galione untuk membuat sebuah proyek fotografi yang tidak biasa.

Pada kunjungan mereka ke Jepang beberapa waktu lalu, mereka menyempatkan diri untuk datang ke sebuah pulau terpencil di Okayama, Jepang. Di sana ada sebuah spesies udang yang unik yang mampu mengeluarkan cahaya biru yang berpendar di malam hari.
Udang tersebut juga dikenal dengan sebutan sea fireflies atau kunang-kunang laut. Di daerah asalnya yaitu Jepang, spesies itu dikenal dengan nama umibotaru. Ada juga istilah ilmiahnya untuk spesies ini, yaitu Vargula Hilgendorfii.

Pada saat mengunjungi tepi pantai Okayama tersebut, Williams dan Galione sangat terkagum-kagum dengan pendaran cahaya biru di sepanjang pasir pantai dan beberapa di tepi laut.

Lalu mereka memiliki ide untuk membuat sebuah objek foto yang lebih menarik dan juga membuat batu-batu di sekitar seolah-olah menangis. Atau mereka menyebutnya dengan “the weeping stones.”

Jadi, mereka memancing udang kecil tersebut dengan menggunakan makanan yang diletakkan di dalam sebuah toples. Lalu mereka menebarkan dengan perlahan udang kecil tadi di atas batu-batuan di pinggir pantai. Nah, dari situ terciptalah “batu menangis.”
Batu biasa tersebut tiba-tiba menjadi sebuah batu cantik yang seolah-olah dialiri air dengan cahaya biru yang berpendar.

Kunang-kunang laut atau Vargula Hilgendorfii adalah spesies udang yang berukuran sangat kecil, yakni sebesar 3mm. Mereka hidup di habitat mereka di pasir pantai dan di laut dengan kedalaman yang dangkal. Udang ini termasuk ke dalam kelompok hewan nocturnal, yang artinya mereka aktif mencari makan di malam hari.

Biasanya mereka berenang menuju permukaan laut hingga ke tepian baik pada saat laut pasang maupun surut. Ketika keluar dari air laut, cahaya yang mereka pendarkan berlangsung sekitar 20 sampai 30 menit. Lalu ketika mereka diguyur dengan air laut, mereka akan memancarkan cahaya biru itu kembali.

Cahaya biru tersebut berasal dari bioluminescence atau dalam bahasa Indonesia disebut bioluminesensi, sebuah fenomena reaksi kimia enzim lusiferase yang terjadi pada suatu organisme hingga menghasilkan cahaya.

Singkatnya, fenomena bioluminesensi ini kebanyakan terjadi hanya pada biota laut seperti ubur-ubur, plankton, annelida, beberapa jenis ikan, dan udang. Karena memang reaksi kimia tersebut terjadi akibat peran serta air laut itu sendiri.(net)




LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here