Beranda Pendidikan Alasan Pemerintah Dorong Pembelajaran Tatap Muka

Alasan Pemerintah Dorong Pembelajaran Tatap Muka

59
0
FIN/RKa
PEMBELAJARAN : Siswa SMA Pintar Lazuardi melakukan pembelajaran dengan metode Blended Learning menggabungkan tatap muka dan tatap maya, Ciputat, Tangerang Selatan, Banten, Senin (3/05).

JAKARTA – Pemerintah mendorong agar pembelajaran tatap muka (PTM) segera dilaksanakan. Ada beberapa faktor penyebabnya, salah satunya kesehatan mental siswa.

Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Mendikbud Ristek) Nadiem Makarim meminta agar PTM segera dilaksanakan dengan penerapan protokol kesehatan ketat. Pemerintah tidak ingin mengorbankan proses pembelajaran serta kesehatan mental anak-anak sekolah Indonesia.

“Menurun (efektivitas) pembelajaran jarak jauh (PJJ) di seluruh dunia saat pandemi ini melanda. Kita mengetahui ini karena ada berbagai macam laporan mengenai berbagai macam kendala yang dialami,” katanya, Rabu (5/5).

Ada beberapa persoalan kurang efektifnya PJJ. Pertama masalah konektivitas sinyal yang tidak reliable serta siswa yang tidak memiliki gawai. Padahal, hal seperti ini sangat fundamental dalam PJJ.

“Sehingga, pelaksanaan PJJ pun di berbagai daerah sangat sulit dilakukan,” tegasnya.

Fakta kedua, adalah dampak psiko sosial siswa. Sebab banyak sekali siswa yang mengalami kebosanan di rumah, kejenuhan, dengan begitu banyaknya video conference yang dilakukan.

Berdasarkan hasil evaluasi pihaknya, kondisi belajar tidak dinamis; siswa kesepian dan mengalami depresi karena tidak bertemu dengan teman-teman dan gurunya. Belum lagi ditambah permasalahan domestik, mulai dari stres yang disebabkan terlalu banyak berinteraksi di rumah dan kurang ke luar.

“Ini juga terjadi di seluruh dunia, bukan hanya di Indonesia. Juga peningkatan level stres daripada orang tua. Yang dengan kesibukannya juga harus membantu membimbing anaknya dalam proses pembelajaran jarak jauh,” urainya.

Melihat berbagai faktor yang ada, Pemerintah pun menilai bahwa PJJ tidak optimal. Khususnya di wilayah pelosok dan terluar yang infrastruktur teknologinya kurang memadai.

“Kita tidak bisa menunggu lagi dan mengorbankan pembelajaran dan kesehatan mental daripada murid-murid kita,” tegasnya.(gw/fin)




LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here